Showing posts with label bahasa dan sastra. Show all posts
Showing posts with label bahasa dan sastra. Show all posts

06 August 2011

Menyempurnakan KBBI, Mungkinkah?

Saat membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sudahkan pengetahuan tentang sebuah kata kita dapatkan? Misalnya, mengetahui kapan sebuah kata masuk dalam bahasa Indonesia, kapan ia mengalami perubahan makna, bagaimana cara pelafalannya, nuansanya, dan dalam bentuk apa saja kata tersebut digunakan?

sudahkah pengetahuan seperti itu kita peroleh dari KBBI? Rasanya tidak. KBBI yang kita punya sepertinya belum bisa menjawab rasa penasaran kita terhadap hal-hal seperti itu.

***

Minggu kemarin saya baru saja mengkhatamkan buku The Professor and the Madman karya Simon Winchester. Ini buku kedua, karya Winchester yang saya baca, setelah Krakatoa.

Fokus cerita buku ini adalah sejarah tentang proses pembuatan kamus yang awalnya disebut New English Dictonary, namun akhirnya menjadi Oxford English Dictonary (OED).

Hal yang membuat saya tercengang adalah mengetahui fakta bahwa dibutuhkan waktu 70 tahun untuk menyusun OED. Sebuah “Kamus besar” yang disebut Winchester sebagai panduan bahasa Inggris paling definitif itu, rampung pada 1928. Tahun dimana founding father bangsa kita mulai menyadari dan mengikrarkan sebuah bahasa yang kelak menjadi bahasa nasional, Bahasa Indonesia.

Waktu 70 tahun sebenarnya tak terlalu mencengangangkan jika melihat hasilnya. OED berhasil menyusun 414.815 kata yang didefinisikan, 1.827.306 kutipan ilustratif yang dibagi dalam 12 jilid raksasa. Bandingkan dengan KBBI yang sampai saat ini belum mencapai 100.000 kata.

Saya sendiri pernah melihat OED di perpustakaan Universitas Brawijaya saat masih kuliah dulu. Entah edisi dan jilid ke berapa. Namun seperti dijelaskan Winchester, kamus tersebut mampu menyajikan pengetauan bahasa Inggris secara keseluruhan.

OED mencatat setiap kata, setiap nuansa, setiap pergeseran makna, ejaan, cara pengucapan, setiap akar etimologi, dan setiap kutipan ilustratif yang bisa dipinjam dari setiap pengarang Inggris. Hal yang belum bisa dipenuhi oleh KBBI.

***

Membandingkan OED dengan KBBI, saya menyadari bahwa KBBI sangat jauh tertinggal. Bukan saja dalam jumlah kata namun dalam penjelasan-penjelasan lain tentang sebua kata, seperti kutipan ilustratif yang menjadi kebanggan OED.

Entah kenapa para ahli bahasa penyusun KBBI sepertinya abai untuk mencermati setiap penggunaan bahasa dalam berbagai penerbitan. Dalam KBBI baik edisi I maupun edisi II, kita tidak menemukan satupun karya sastra, atau surat kabar, yang dijadikan sebagai “pustaka acuan”. Kebanyakan “pustaka acuan” yang digunakan adalah kamus-kamus dan daftar-daftar istilah. Padahal kehidupan sebuah bahasa tidak lepas dari bahasa yang digunakan di masyarakat, seperti koran dan karya-karya sastra.

Bisakah kita bisa menyusun sebuah KBBI seperti OED? Tentu saja. Andai saja para ahli bahasa mau mengurus, saya kira akan banyak relawan yang ikut bergabung.

Dalam pembuatannyapun saya kira akan lebih mudah dan lebih murah. Pasalnya dunia yang kita diami saat ini sudah dilengkapi peralatan modern. Pengumpulan lema dalam karya sastra tidak akan sebanyak saat menyusun OED. Mengingat umur bahasa Indonesia masih relatif muda.

Berkembang dan majunya bahasa hanya tergantung dari kepedulian kita untuk memeliharanya. Memang jauh terlambat. Namun rasanya lebi baik menyadari terlambat dan bergegas mengejar ketertinggalan dari pada diam dan terus terpuruk.

Selamat malam..

19 June 2011

Teguran Mahfud MD

Teguran Ketua MK Mahfud MD kepada Presiden SBY karena menggunakan bahasa Inggris saat berpidato, seharusnya juga menjadi teguran untuk kita semua. Seperti diketahui sebelumnya, Preseiden SBY ditegur Mahfud MD karena berpidato dalam bahasa Inggris saat membuka konferensi tingkat menteri (KTM) ke-16 Gerakan Non Blok (GNB) di Bali, bulan lalu.

Meski yang disebut melanggar UU, yang bila melanggar tak ada sanksinya itu, hanya ditujukan kepada presiden dan pejabat pemerintahan. Namun saya kira teguran dari Mahfud MD merupakan himbauan kepada siapapun untuk menghidupkan bahasa Indonesia. Untuk selalu menjungjung bahasa persatuan. Termasuk media di dalamnya.

Karena rasa-rasanya kurang adil jika kita hanya mengritik presiden, sementara media yang juga turut serta dalam mengampanyekan cara berbahasa campur aduk, luput dari perhatian.

Soalnya pasti ada alasan di balik kenapa Presiden SBY kadang mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris dalam beberapa pidatonya itu? Bisa jadi presiden terpengaruh oleh media atau ikut tren dari masyarakatnya.

Entah karena beliau sering menonton Metro TV? Seperti yang kita tahu, stasiun TV ini sering membuat judul acaranya dengan bahasa Inggris, walalupun isi acaranya, yah menggunakan bahasa Indonesia. Ataukah presiden terpengaruh artis Cinta Laura, ataukah karena presiden sering menonton sinetron?

Alasan Presiden mencampur adukkan masih tanda tanya. Karena belum ada surat kabar yang memberitakan alasanya. Hanya yang bukan tanda tanya adalah pola kapan presiden menyisipkan bahasa Inggris dalam pidatonya, kapan tidak.

Presiden biasanya menyisipkan bahasa Inggris saat sedang berpidato di hadapan orang-orang pintar. Sementara saat mengungkapkan curahan hatinya, ketababahan dirinya menghadapi ratusan fitnah, misalnya, presiden lancar berbahasa Indonesia.

Bagi saya, apa yang dilakukan SBY hanya semakin mempekuat kepercayaan saya pada ungkapan bahwa pemimpin itu produk dari masyarakatnya.

Salahkah Menyelipkan Bahasa Inggris?

Pertanyaan pentingnya, jika yang diwajibkan UU untuk menggunakan bahasa Indonesia itu adalah pejabat dan presiden, lalu apakah salah jika masyarakat biasa menyisip-nyisipkan bahasa Inggris dalam sebuah percakapan atau tulisan?

Dari apa yang saya simak saat membaca rubrik-rubrik bahasa yang ada di surat kabar, para pemerhati bahasa ini selalu menyarankan agar kita semampunya menggunakan bahasa Indonesia. Selama kita menemukan padanan kata dalam bahasa Indonesia, kita selalu dihimbau agar sebisa mungkin menggunakan kata tersebut dalam bahasa Indonesia dari pada bahasa Inggris.

Misalnya menggunakan kata “unduh” untuk “download” atau “unggah” untuk “upload”, meskipun “unduh” dan “unggah” kurang populer.

Lalu untuk merespon teguran Mahfud MD itu, perlukah Kompasiana, misalnya, mengganti rubrik “lifestyle” menjadi “gaya hidup”? Pasalnya, dalam English Oxford Dictionary online dan Kamus Besar Bahasa Indonesia online kedua kata tersebut mepunyai arti yang sama.

Sementara terhadap kata dalam bahasa Inggris yang belum ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia, kita diberi kelonggaran untuk menyisipkan kata tersebut dalam bentuk bahasa Inggris.

Kenapa begitu? saya kira karena ada kata dalam bahasa Inggris yang belum ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Misalnya, saya masih kesulitan menemukan padanan kata “single”. Misalnya dalam kalimat, penyanyi A rencananya akan meluncurkan single keduanya dan album ketiganya, di hotel C.

Bahasa Inggris begitu kaya lemanya karena banyak menyerap frasa dalam bahasa lain. Sehingga sebagian orang, selain karena gengsi, lebih menggunakan bahasa Inggris karena leih ekspresif.

Banyak contoh kata dalam bahasa Inggris yang masih belum memiliki padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Untuk itu maka tugas para ahli bahasa untuk segera menyerap dan membakukannya ke dalam bahsa Indonesia. Jjika tidak ada gebrakan dari pengelola bahasa, saya kira kita akan semakin sering menemukan Cinta Laura dalam percakapan sesehari.

Salam Cinta.

11 June 2011

Begitu Susahkah Berbahasa Indonesia?

Ada rasa prihatin saat membaca laporan yang diturunkan oleh Media Indonesia hari Jum’at (10/6/2011), kemarin. Secara umum laporan tersebut mengupas tentang sulitnya mata pelajaran Bahasa Indonesia di kalangan pelajar SMA.

Dalam laporan tersebut disebutkan sebanyak 1.786 siswa SMA/MA se-Indonesia tidak lulus Ujian Nasional dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Jumlah tersebut jauh lebih banyak dibandingkan siswa yang tidak lulus dalam mata pelajaran bahasa Inggris yaitu sejumlah 152 siswa. Sementara, yang sepertinya tidak asing, ketidaklulusan terbanyak masih dipegang oleh mata pelajaran matematika, yaitu sebanyak 2.392 siswa.

Pertanyaan dari orang awam tentang pendidikan seperti saya, tentu saja, begitu susahkah pelajaran bahasa Indonesia?? Padahal Bahasa Indonesia adalah bahasa yang banyak dipergunakan dalam kehidupan sesehari selain bahasa ibu.

Jika melihat perbandingan kelulusan mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, pertanyaan lain yang muncul, benarkah bahasa Inggris lebih mudah dibandingkan bahasa Indonesia? Padahal kita tahu, kebanyakan dari kita, saya misalnya, selalu gelagapan bila berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Dari pertanyaan sederhana tersebut saya jadi meragukan jika UAN dijadikan sebagai satu-satunya alat uji untuk mengukur kemampuan berbahasa Indonesia siswa-siswa.

Apa sebab, soal UAN yang seluruhnya menggunakan metode pilihan ganda, hanya menguji kemampuan membaca siswa. Sementara pelajaran Bahasa Indonesia bukan cuma tentang membaca. Tapi juga mencakup keterampilan, menulis, berbicara, dan mendengarkan

Jadi, bagaimana menilai keterampilan menulis dalam soal pilihan ganda? Apakah memilih satu jawaban dari empat pilihan yang disediakan bisa merefleksikan kemampuan anak mengekspresikan dirinya dalam menulis?

Apakah soal pilihan ganda untuk memilih mana pantun, dan mana puisi menggambarkan kemampuan anak membuat puisi? Menulis adalah kemampuan produktif untuk mengembangkan gagasan di otak. Sedang membaca soal pilihan ganda tidak ada urusannya dengan memproduksi gagasan.

Jadi mengukur satu kemampuan berbahasa yaitu membaca menjadi harga mati untuk megukur dan menilai kecerdasan seorang siswa. Jadi apa gunanya para siswa belajar habis-habisan jika alat pengujinya tidak valid dan tidak bisa diandalkan?

Ini bukan berarti pula saya menganggap siswa SMA mampu berbahasa Indonesia dengan ‘baik dan benar’. Apalagi di tengah fenomena para remaja saat ini keranjingan menggunakan bahasa menggunakan kode-kode alias alay.

Budayawan dan penulis Ajip Rosidi pun pernah mengungkapkan keprihatinan tentang lemahnya penguasaan berbahasa Indonesia di kalangan pelajar. Padahal, kata Ajip, mudah sekali jika ingin melatih keterampilan berbahasa Indonesia di kalangan pelajar.

Dirikan perpustakaan. Beri siswa kesempatan untuk membaca buku-buku yang baik di luar jam mata pelajaran. Apa itu buku-buku baik? Salah satu contoh buku yang baik adalah buku-buku sastra yang sudah diakui mutunya.

Pertanyaannya, sudahkah Kemendiknas mengusahakan untuk mendirikan perpustakaan di sekolah dengan koleksi buku yang bermutu? Jika belum, rasa-rasanya persoalan berbahasa Indonesia akan tetap menjadi momok bagi pelajar menjelang UAN tiap tahunnya.

Salam.

28 March 2011

Sulitnya Membangun Pusat Dokumentasi

Karena tak terurus, ribuan koleksi karya sastra yang tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin terancam rusak (Kompas, 20/3/2011).

Membaca berita itu, saya seolah tersadar dari pertanyaan yang selama ini selalu saya utak-atik dalam kepala. Kenapa bangsa ini selalu terperosok dalam lubang yang sama dan terantuk pada batu yang sama. Jawabannya adalah karena sejarah dan kesusasteraan masih dipandang sebelah mata.

Ketua Yayasan HB Jassin, Ajip Rosidi, tiba-tiba merencanakan untuk menutup PDS HB Jassin. Alasannya, yayasan tak memiliki lagi dana untuk merawat PDS HB Jassin. Pangkalnya, dana hibah dari Pemrov DKI yang digunakan untuk mengelola PDS HB Jassin terus berkurang. Dana yang semula 500 juta pertahun, berkurang hingga kemudian hanya menjadi 50 juta pertahun pada 2011.

Akibat kurangnya subsidi itu, mengutip status Sitok Srengenge di microblogging twitter “yang bahkan tak cukup untuk bayar listrik dan pemeliharaan fasilitas, #PDS hampir tak mungkin bertahan,” tulisnya.

Lagi-lagi alasannya klise, karena masalah birokrasi. PDS terlengkap yang merekam perjalanan sastra Indonesia modern itu terbengkalai. Padahal ada anggaran Rp 6 triliun dari APBD Jakarta 2010 yang tak terserap. Ironis!

Ignas Kleden dalam esainya bertajuk Menyongsong 80 TahunHB Jassin -Menghargai Sebuah Dokumen Hidup- empat tahun silam mengingatkan tentang pentingnya menghargai PDS HB Jassin. Menurut dia, diabaikannya dokumentasi oleh negara hanyalah wajah luar dari mentalitas yang lebih dalam: diabaikannya sejarah. Akibatnya, bangsa Indonesia menjadi pendek ingatan dan lekas pelupa. Dan, kata dia, kutukan bagi seorang pelupa adalah mengulang kesalahan yang sama berulang-ulang.

Sebagian orang bisa saja bertanya kritis, apa pentingnya PDS Sastra. Toh investasi bisa terus berjalan, pembangunan gedung pencakar langit tak akan terpengaruh, pembangunan jalan tol tak akan terganggu, dengan atau tanpa adanya PDS HB Jassin.

Namun, mengutip Ignas, kelak suatu bangsa tidak hanya berbangga tentang berapa panjang jalan tol yang telah dibangun, berapa banyak gedung yang sudah didirikan, tapi apa yang sebetulnya dulu dicari oleh jiwa dan pikirannya saat dulu membangun jalan dan gedung.

Semua itu tentu hanya dapat ditelusuri dari sejarah di mana bangsa tersebut lahir dan tumbuh. Tanpa mengetahui asal usul kelahirannya, sebuah bangsa akan dengan mudah lupa daratan.

Lalu, seberapa besar PDS HB Jassin bagi bangsa Indonesia? Menurut Ignas, arti penting PDS yang didirikan tahun 1977 itu hanya bisa disandingkan dengan universitas-universitas terbaik yang ada di belahan dunia lain.

Arti penting dokumen tersebut baru dapat dipahami, bila diingat bahwa untuk bidang studi lainnya hampir tidak ada pusat dokumentasi di Indonesia yang dapat diandalkan.
Untuk belajar sejarah kebudayaan dan Indonesia, mahasiswa dan sarjana Indonesia akan belajar ke Leiden, Belanda. Untuk belajajar politik mereka harus ke Itacha, AS, untuk belajar Ekonomi ke Canberra, Australia, dan untuk belajar asal-usul perkembangan bahasa sendiri mungkin harus ke Hamburg, Jerman, atau Kyoto, Jepang.

“Hanya untuk belajar sastra Indonesia modern saja seorang sarjana atau mahasiswa cukup indekos di Jakarta dan bisa mendapatkan hampir segala bahan yang dibutuhkannya di PDS HB Jassin,” demikian Ignas.

Masih Terpinggirkan

Tujuh tahun yang lalu saya membaca tulisannya Emha Ainun Najib tentang keprihatinan beliau atas terpinggirkannya dunia sastra di Indonesia. Sekarang nasib dunia sastra tampaknya masih tak berputar. Masih dipinggiran.

Saking termarginalkannya, Cak Nun membandingkan kesusastraan dengan lokalisasi wanita tuna susila (WTS). Menurut Cak Nun, di indonesia sering muncul kondisi dimana WTS memperoleh kemerdekaan untuk beroperasi, sementara itu, seni sastra sangat diragukan oleh masyarakat baik secara politis maupun kultural ia sebaiknya ada.

Begitulah, impian adanya sebuah pusat dokumentasi berbagai bidang ilmu yang terkelola baik sangat jauh dari impian kita. Padahal, jika di Indoneisia ada lima orang Jassin saja maka mungkin sekali ingatan kita akan tertolong. Mungkin banyak kesalahan dapat terhindar dan mungkin pula kita bisa maju beberapa langkah lebih ke depan dari sekarang.

Kenyataan pahit memang. Namun ada dua pilihan menghadapi keadaan tersebut. Kita tanggapi serius akan ditutupnya salah satu dokumentasai sastra terbesar? Atau kita anggap sebagai peristiwa yang wajar terjadi di sebuah negeri penuh korupsi?

Jika kita masih manusia normal, seharusnya kejadian tersebut menyentak kesadaran. Setidaknya, tentang kepedulian Pemerintah Provinsi Jakarta dan warganya. Apalagi dana APBD Jakarta yang Rp 28 triliun yang digunakan untuk PDS HB Jassin relatif masih kecil. Hanya Rp 50 juta per tahun.

Sebelas tahun yang lalu, saat HB Jassin meninggal, Sekwilda DKI Jakarta Fauzi Bowo memimpin upacara pemakamannya.
Maka, jika PDS HB Jassin ditutup saat ini, Foke lah satu-satunya orang yang dicatat dalam sejarah sebagai pemimpin upacara penguburan HB Jassin sekaligus orang yang mengubur harta terbesar peninggalan tokoh sastra Indonesia tersebut.

31 October 2009

pada akhirnya

Pada akhirnya
peta hidup akan kita lipat
lalu disimpan pada kotak di laci terdalam.
Dan jejak langkah akan tertimbun
debu jalan yang terbawa angin.

Tak ada yang tersisa setelah perjalanan
selain retak-retak dalam ingatan.

Dan pada akhirnya
kita akan kembali tersesat.
(seperti hari itu)
kau tersesat dalam kamarku
aku tersesat dalam dirimu.

Pada akhirnya semua harus berakhir.
dan yang seharusnya tak terjadi
yang kan menjadi abadi.

Sukabumi, Oktober 2009

03 October 2009

sajak perempuan

laut adalah perempuan
bumi adalah perempuan
air adalah perempuan

samudera juga perempuan
tanah juga perempuan
rembulan juga perempuan

dan selebihnya hanyalah sepi..

dan selebihnya adalah sepi

Sukabumi, September 2009

07 September 2009

nokturno

jalanan sudah dingin
Buku sudah basi
Kopi sudah habis
Lampu telah mati
Tapi bayangnya belum beranjak pergi dari hati

Sekarang terbaring aku,
tersalib di ranjang sepi
berteman peri dalam mimpi
dan sebait puisi..
yang tak pernah jadi

12 August 2009

Rendra



Rendra sudah tiada. Betapa terkejut saya ketika mendengar kabar tersebut. Meski sempat mengikuti satu dua kabar berita tentang dirawatnya penyair satu ini di rumah sakit karena masalah jantung, tak pernah terpikir bahwa ia bakal berpulang sedemikian mendadak. Apalagi empat hari sebelumnya seniman Mbah Surip juga meninggal akibat serangan jantung dan dimakamkan di halaman belakang Bengkel Teater milik Rendra.

Rendra, saya mengenal namanya semenjak di bangku SMP dulu. Tetapi, baru tahun 2005 saya bisa menyaksikan langsung Rendra membacakan sebuah puisi. Ketika di atas panggung itulah saya tahu kenapa Rendra menjadi penyair papan atas di Indonesia: ia karismatik, suaranya memukau, sorot matanya tajam. Dengan mudah ia menyentuh dan membius penonton. Sejak itulah saya mencari Rendra. Empat Kumpulan Sajak-nya saya temukan tertumpuk buku lain di stan Yusuf Agency dalam sebuah acara book fair. Sedang puisi-puisi yang lainnya saya gunduh dari internet. Sejak membaca sajak-sajak Rendra, satu hal dalam diri terpatok pasti: bahwa Rendra lah penyair terbaik yang kita punya.

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata, demikian kata Rendra.

Dan demikian pulalah bait-bait kehidupan beliau didedikasikan untuk sebuah perjuangan. Sebuah pelaksanaan kata-kata. Sama seperti yang terbaca pada bait-bait sajak beliau. Puitik. Tidak takut bicara, berpendirian keras.

....
Karena kami arus kali
Dan kamu batu tanpa hati
Maka air akan mengikis batu
.
(Sajak Orang Kepanasan, 1979)

Apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita
Apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan...

(Sajak Sebatang Lisong, 1978)

Adalah dedikasinya pada kebenaran. Keterlibatannya pada kehidupan. Perhatiannya pada manusia dan masyarakat, dan kegigihannya untuk terus bekerja melalui cara terbaik itulah, memasukkan entry Si Burung Merak dalam kamus hidup saya.

29 July 2009

mimpi indahkah kau tadi malam?

Malam ini tak ada yang lebih ingin aku lakukan
Selain berada bersamamu. Sedekatmu mungkin.
kemudian membisikkan “selamat malam”, “tidur nyenyak”,
“mimpi indah” padamu.
Pelan saja. Dekat telingamu. Hanya cukup aku, kau mendengarnya.
Agar tak terusik sunyi yang membungkus kita.

Malam ini tak ada yang lebih ingin aku lakukan
Selain berada bersamamu. Sedekatmu mungkin.
menanti momen di mana matamu pelan-pelan menutup.
Saat sadarmu berangsur redup. Saat jiwamu perlahan tertidur.
Lalu menikmati lelapmu. menghitung nafasmu
yang lepas sehelai demi sehelai ke ruang sepi

Malam ini tak ada yang lebih ingin aku lakukan
Selain berada bersamamu. Sedekatmu mungkin.
Menjagamu.. sampai embun pagi mewujud setitik demi setitik di atas daun.
sampai semburat fajar perlahan terlukis.
Hingga pagi menjelma.Lalu menemukanmu di awal hari,
dan aku bertanya “mimpi indahkah kau tadi malam?”


2008

20 July 2009

Tuhan, maafkan aku.

Tuhan, misscall aku lagi.
Nuraniku sudah lama tak bergetar
Oleh panggilanMu

Atau SMS-i aku kembali, Tuhan
Karena pesan dari suratMu yang kubaca semalam
(dengan sepenggal-sepenggal tentunya)
Sudah hilang oleh berita koran tadi pagi.

Tuhan, Kirimi aku lagi satu alamat namamu
Karena 99 namaMu yang kuingat tadi Subuh
(sambil tekantuk-kantuk pastinya)
Sudah terhapus bahkan sebelum siang.

Tuhan, misscall aku lagi.
Nuraniku sudah lama tak bergetar
Oleh panggilanMu.
Atau nuraniku sudah lama hilang entah di mana ?

13 July 2009

Tetes embun terakhir


Tetes embun terakhir
yang bercampur air hujan semalam,
akhirnya jatuh jua dari hati.
menguap sebelum menimpa bumi
terlupa sebelum menjadi puisi

28 June 2009

gaza

Matahari telah mati
di atas kota Gaza
tapi tak seorangpun yang berkabung

maut yang suram menyelimuti hari
merebak di mana-mana.
menggedor tiap pintu, mengapung di udara
tanpa ada satu saudara yang bisa menghalangi.

maut yang dingin menyelimuti hati
menyelinap lewat lubang kunci, merayap di kisi-kisi.
Menanti di jalan-jalan sampai pagi.
tanpa ada satu dunia yang berani mengusir.

Maut yang gelap hadir di tiap kepala
pucuk senjata menodong tiap jiwa.
tiap mereka yang bernafas
tiap mereka yang berdarah.

O, matahari telah mati
di atas kota gaza
tapi tak seorangpun yang berkabung!


~~
2008-2009

13 June 2009

Apakah rindu?

adalah senandung lagu
dari seorang yang tak ingin sendiri
menanti, karena ingin bertemu

adalah lantai kuil berbatu, bersama debu,
yang hilang sebelum tersapu.
ciptakan harapan yang pilu

adalah tegak tugu di batas hutan,
bersama rerumput, angin dan dingin,
ciptakan sepi yang sedih

apakah rindu?
adalah ratap lirih
dari seorang yang tak ingin sendiri.
fana tapi sendu.

Sukabumi, juni 2009

18 May 2009

Bunga pagi hari




fajar pecah dan remahnya taburi pagi
selamat datang, bisik bunga pada matahari
kepada harapan mereka tlah ikatkan ikrar, tuk lalui hari,
berbagi janji nikmati mimpi.


Malang, 15 Mei 2009
1,5 jam sebelum sidang akhir (lagi)

12 May 2009

catatan 24

sengaja namamu tak pernah kusimpan dalam kantong baju atau dompet atau bahkan ponsel sekalipun agar nanti ketika kau lanjut usia dimana satu persatu anakmu meninggalkanmu yang akan membuatmu merasa kesepian dan hari-harimu terasa amat menyiksa sampai terkadang kau bingung harus melakukan apa, sedangkan sofa dan tempat tidur hanya menambah kehampaanmu menjadi seorang yang gelisah, dan kau mulai lupa dan ragu siapa sesungguhnya bayangan yang kau lihat di balik cermin sebab hanya samar-samar yang kau ingat tentang hidupnya, saat itulah kau terkejut dan menyesal sebab kau kenali kembali dirimu lewat namamu dan sebagian kisah hidupmu (juga mimpimu) yang masih tertulis rapi di dalam dadaku yang tak lagi berdetak.

Malang, 12 Mei 2009

05 May 2009

Sepenggal sesal



Sepenggal sesal
yang aku kunyah
tak bisa aku telan
tak juga bisa aku muntahkan.

Tak ada rasa
Tak ada makna
Hanya hampa
Yang terserap dalam dada

Hingga mata yang kini
menatap di balik cermin
sudah tak lagi aku kenali
(siapa yang telah pergi?)

Oh, Tuhanku
Aku menghilang dari diriku.


Malang, 2 Mei 2009

20 April 2009

Jejak



ombak laut membelai halus pantai berpasir
Namun jejak kakimu merusaknya



Jejak kakimu merobek pantai berpasir
Namun ombak laut cepat menyulamnya



Dari sebuah catatan lampau
Malang, (tak ada catatan waktu)

Teman 3

di titik ini kita berhenti
titik dimana arah sudah berselisih
tanpa kita sadari
dan tanpa harus kau mengerti

di titik ini kita berselisih arah
karna tangan saling menghunus belati
dan lidah sudah berlumur bisa
sedang mata tak lagi menjalin

di titik kita berselisih arah.
habis sudah. tak ada apa dan siapa
Hanya kita
Aku, engkau, dan semburat jingga

Akhirnya kita berhenti di sini.
namun jika kita percaya bulatnya bumi,
pasti pada suatu nanti
di titik ini kita beriring kembali.


Dari sebuah catatan lampau
Malang. (tak ada keterangan waktu).

Tentang teman yang keras kepala.
::cinta, pertemanan, persahabatan, terkadang memang buta,
Tapi seringkali juga bodoh::

13 April 2009

angin berubah arah

Angin berubah arah
pijakan bergetar goyah
pegangan telah melemah.

Tak ada yang bisa aku pertahankan.

padamu, aku pasrah dan menyerah
dalam dirimu tersesat aku sudah.


Sukabumi, April 2009

24 March 2009

Ketika langit mendung

Ketika langit mendung, sebelum hujan turun, seekor kupu-kupu masuk ke dalam kamar, terbang berkeliling dalam ruangan, hinggap di lampu neon lalu menempel di kaca jendela. Memamerkan kedua sayapnya yang indah dan kepakannya yang tenang.

Di dalam kamar itu, di bawah lampu, seorang laki-laki terbaring, menerawang kaca jendela, memandang langit mendung. Ia ingin terbang, meminjam sayap kupu-kupu dan pergi menerobos awan menyongsong hujan.

Seorang laki-laki dan seekor kupu-kupu terperangkap dalam sepi. Yang satu tenggelam dalam lamunan yang satu sibuk dalam kepakan. Keduanya hanya bicara dalam diam.

-kenapa tak kau sambut kehadiranku?