10 February 2010

Kekerasan atas nama Yang Maha


“Kekerasan”.

Kata tersebut tampaknya sudah menjadi tak asing di telinga kita. Atau mungkin sudah menjadi jamak bila kita terus menyimak koran atau berita di televisi. Karena hampir saban hari, media kita menyediakan waktu (bahkan segmen khusus) untuk berita tindak kekerasan dengan macam variannya: Perampokan dengan kekerasan, penghakiman massa, penggusuran paksa, perebutan lahan parkir, tawuran antar warga, tawuran antar pelajar, kekerasan dalam ospek, penyerbuan aliran sesat dan lain-lain dan lain-lain.

Mungkin budaya kekersan adalah warisan (atau kutukan) dari nenenk moyang kita. sebagaimana dalam catatan perjalanan admiral Cheng Ho yang sempat mampir ke Nusantara di abad XV yang mendeskripsikan penduduk yang mendiami pulau-pulau Indonesia sebagai “orang-orang berdarah panas yang gemar menguji keampuhan pisau mereka ke tubuh tetangganya”. Sifat kasar dan urakan mungkin benar terwariskan bila melihat masih diproduksinya kekerasan dalam mengekspresikan ketidaksetujuan. Apalagi digunakannya kekerasan sebagai jalan keluar paling mudah dalam menyelesaikan suatu masalah. Jalan paling mudah karena dalam bahasa kekerasan berlaku hukum yang sederhana: yang kuat yang menang.

Namun dari itu semua yang paling menyedihkan (dan sekaligus saya benci) adalah saat agama dijadikan tameng untuk mensahihkan kekerasan terhadap orang lain. Tindak kekerasan atas nama agama jelas bukan perkara baru di dunia: Merebaknya suasana ketidakadilan yang semakin lama semakin meluas di mana-mana, pembacaan teks yang literal dari masing-masing pemeluk, adanya ketidakpastian hukum. Semua itu, seperti minyak yang terus menggenang dalam mind set massa. Sekali api terpantik dan krashhh!! Menyalalah kekerasan.

Di sini, agama menjadi hal yang mudah dibentuk dan dirombak. Di satu sisi Agama dapat dipakai untuk mempromosikan kebajikan, perdamaian dan ketulusan. Namun tak jarang agama menjadi alasan untuk melanggar hak privat orang lain, bahkan menyalakan kebencian dan kekerasan. Jelas, melihat agama dalam sudut seperti itu sungguh sangat berbahaya. Mengingat akan selalu ada ketidakadilan dalam kehidupan manusia. Akan selalu ada alasan untuk menjadi tidak puas dalam ketidaksetujuan. Dan akhirnya menyeret agama sebagai alasan menyalakan kekerasan atas nama Yang Maha.

Agama pada akhirnya adalah institusi yang punya jejak-jejak ketidaksempurnaan manusia di dalamnya. Namun karena ketidaksempurnaan itu juga, manusia memiliki banyak potensi dan pilihan. Potensi yang akhirnya merubah bangsa yang dasarnya keras dan urakan, mampu membangun peradaban seperti yang tercermin dalam nilai-nilai tradisi yang kita punya saat ini. Melihat hal itu, mau tak mau membawa pengharapan pada saya akan adanya kehidupan yang lebih baik..

Selamat berakhir pekan.
**
semoga suatu saat kekerasan hanya terjadi dalam cerita-cerita saja, atau cerita pengantar saat anak akan tidur.

tulisan ini entar2 saya edit lagi kalau udah dapet referensi yang bagus. terus terang masih bingung bikin penutupnya.

4 comments:

Oyen said...

ayo..perjuangkan kehidupan yang lebih baik, TANPA ANARKHI DAN PROVOKASI...

Maka dakwah melalui pemikiran harus terus dilanjutkan, agar agama tidak terpisah lagi dengan ranah ekonomi, politik, pemerintahan, pergaulan, pendidikan, dsb

karena Islam adalah solusi

ok, nanti Oyen taro linknya

NengNisye.com said...

begitulah kalau cuma mengambil secara harfiah arti yang ada di kitab suci. tapi sepertinya ngga ada yang peduli karena buat orang-orang yang seperti itu, kadang sudah tidak bisa melihat dengan mata hati yang sebenarnya. terlalu dibutakan dengan neraka.

btw, ga ada niat punya domain sendiri ente? :D

Cak Yit said...

salam kenal bro
nice posting

Bambang Trismawan said...

oyen< makasih deh udah mau majang blog ga karuan ini. hhehe..

nisye< pengen..sih! dari dulu malah. tapi ya itu itu... alesannya. You know what lah. hahah..

Cak< matur suwun Cak sudah mampir..