08 December 2006

with Love

Semacam prologue
Tulisan ini pada awalnya saya persiapkan untuk menjawab imel yang
bejudul Sistem Cinta. Tapi saya toh sadar bahwa menulis tema cinta
adalah berarti menulis tentang keluasan isi dunia. Tak akan pernah
habis. Sesuatu yang hanya dapat dirasakan namun tak akan pernah
habis didefinisikan. Anda tak akan pernah utuh mendefinisikan cinta.
mUngkin bisa jadi satu definisi cocok dengan diri Anda namun belum
tentu pas dengan orang lain. Membicarakan cinta tidak akan habis
hanya dalam satu dua tarikan nafas. Dan Anda jangan pernah iseng
untuk menghitung berapa banyak lembar kertas yang dipakai untuk
menulis Cinta. Berapa banyak pohon ditebang. Menghitung berapa
Gigabyte (dlm dunia digital) dibutuhkan untuk menampung besarnya
kapasitas cinta. Berapa panjang pita kaset dan rol film untuk
merekam wacana cinta. Dari yang seindah embun pagi sampai yang
kelam.

Seorang teman berkata jangan pernah menulis cinta jika sedang jatuh
cinta. Waktu itu saya tidak tanya kenapa harus seperti itu (sampai
sekarang masih menjadi misteri). Mungkin Bisa jadi alasannya ada
dua (sok tau banget y). Satu, Anda tak akan pernah bisa menulis
satu patah kata pun. Kedua, Anda tak kan pernah bisa berhenti untuk
menulis.

Makanya dari itu saya hanya akan mengutip beberapa pendapat orang
tentang tentang cinta saja, sebagai mukadimah dari lahirnya ideologi
cinta yang lahir di Amerika. Generasi yang lahir mengiringi
kelahiran George W. Bush.

Kita mulai dengan definisi cinta sang romantis Gibran, yang
menemukan cintanya dalam kerja. Dengan kalimat yang populer
adalah "kerja adalah cinta yang mengejawantahkan". Dengan rasa
cinta, bekerja menjadi penyatuan diri dengan diri sendiri dengan
diri-diri orang lain dan kepada Tuhan.

Berbeda dengan definisi cinta yang diutarakan oleh Marx si realis
(Atheis)-yang ini emang bikin bosen dan bete-in, yang barangkali
definisi cintanya dipengaruhi oleh kehidupan yang cukup bahagia
dengan istrinya walaupun didera dengan kemiskinan. Dengan sangat
mengaharukan ia mengakui hubungan yang tidak bikin terasing adalah
hubungan cinta sejati antara laki-laki dan perempuan. Hubungan
demikian dimana hubungan masing-masing pihak berkeinginan saling
membahagiakan dan tidak menuntut balas jasa. Kamu tidak berhutang
apapun terhadap orang yang mencintaimu.

Jika kedua orang diatas berpendapat seperti itu, maka berbeda dengan
Erich Fromm. Ia bilang cinta adalah jawaban atas masalah eksistensi
manusia. Eksistensi manusia dari keterpisahan dirinya dengan dunia
luar. Fromm beranggapan bahwa keberadaan manusia diawali dengan
keterpisahan. Keterpisahan Adam dan hawa dari Tuhannya. Kemudian
ketika di bumi Adam pun terpisah dari hawa. Kiamat kecil. Mati
merupakan keterpisahan. Keterpisahan seseorang dgn orang lain.

Menurut Fromm, kebutuhan manusia yang paling dalam adalah mengatasi
keterpisahannya dan meninggalkan penjara kesepiannya (duooo…). Dan
itu di capai lewat cinta. Dengan cinta manusia memperoleh
kebersatuannya. Dan salah satu memperoleh kebersatuannya adalah
dengan kegiatan kreatif., karena dengan manusia menyatukan diri
dengan bahannya, yang mewakili dunia di luar dirinya. Dalam
prosesnya ia yang merencanakan dan ia yang melihat hasil kerjanya.
Fromm merujuk kegiatan kreatif pada kerja yang dilakukan oleh
seniman atau pekerja yang ahli.

No comments: