17 October 2007

Sebagian Tetap sama Beberapa Telah Berubah.

Lebaran dikampung kali ini menyisakan banyak perenungan dalam buatku. Entah apakah nantinya perenungan ini mampu membuat perubahan pada hidupku ataukah semakin memaku ego kedalam karakter, atau hanya sebagai sebagian kisah hidup yang mampir saja. tanpa kesan tanpa makna yang akan lalu berlalu begitu saja. Aku seeh, berharap semoga jeda yang sebentar ini mampu menjadi bekal untuk melakukan perjalanan panjang lagi. Perjalanan mendefinisikan hidup yang jauh dari rumah.

Kemaren, saat menginjakkan kaki di kota kelahiran, sukabumi, saya sudah lumayan terkejut dengan beberapa ruang kota yang aku lewati tampak berbeda. Keterkejutan bertambah ketika aku kembali kerumah dan banyak bertemu dengan teman dan handai taulan. Keterkejutan tak lebih karena menemukan berbagai hal yang dulu akrab kini hadir berbeda, terbentur dengan harapan yang menginginkan semua tetap sama. Ga pernah berubah.

Ah, Saya sering tak siap jika berhadap-hadapan dengan yang dulu akrab, lalu kini tlah berubah. Sudah Berbeda tak sama lagi. Saya ini konservatip mungkin. Pro status Quo, berharap romantisme masa lalu bisa kurasakan lagi. Sering berpikir (dan berharap) akan ketemu dengan kawan lama dengan keakraban yang terbangun di masa kecil dahulu. Bertemu dengan teman lama dengan guyon, cela, seius, canda pada masa lalu. Ingin ketemu dengan sahabat lama dengan pengertian, solider yang dahulu pernah ada.

Memang, pohon rambutan di kebun orang, tempat bermain, merayakan kreativitas, (dan mengambil rambutannya) sekarang pun masih ada dan tampak kelihatan sama. Sungai tempat berenang, bermain dan melepas lelah setelah main bola di tengah guyuran hujan masih ada. Pos ronda tempat nongkrong, gitar-gitaran, cangkruk’an, leyeh-leyeh, main krambol, remi atau gapleh dan masak nasi liwet dimalam hari, toh masih berdiri.

Yang berbeda, tak ada lagi riuh tawa anak disungai, yang sungainya kini sudah agak surut jauh dan jauh lebih kotor. Perkampungan jadi semakin sempit, Tak ada lagi tempat anak yang bermain (dan emang mereka enggan) bancakan, boy-boyan, bentengan, dan segala permainan tradisional yang dulu (alhamdulillah) pernah saya mainkan. Dan tentang sohib2 lama tak kutemukan lagi suasana pertemanan dahulu. Kini semua sudah disibukkan dunianya masing-masing, untuk sekedar bertahan hidup di dunia yang gila ini. Berjuang ditengah-tengah dunia manusia makan manusia.
Termasuk saya yang sok sibuk, dengan skripsinya yang blom kelar2, sampai tak sempat ber-say hallo pada mereka.

Mungkin ini sebuah teguran bagi saya yang tak pernah mempersiapkan kenyataan: Bahwa semua tak ada yang kekal, semua akan berubah. Teguran bagi siapa saja yang sering memaksakan kekuasaanya untuk mempertahankan hukum alam: bahwa muda akan menjadi tua, bahwa kecil akan tumbuh besar.
Dan sekaran, mungkin saya harus menyesuaikan perubahan dan mulai meng-akrabkan dengan yang kini telah berubah.


2 comments:

Kurt said...

Waaah mau komnter dah mau jumatan... nanti lagi deh Insya ALlah diterusin... :)
jujur saya katakan, tulisanmu enak dibaca... runut dan (kamu berbakat jadi penulis hebat) *itu pendapat saya loh yang bukan pembaca berat, tapi pembaca ringan *

aroengbinang said...

romantisme masa lalu mampu menggapai sisi ingatan yang paling dalam dan karena itu orang merindukan sentuhan di sang rasa, meski rasa jarang pernah kembali seperti semula dulu.

perubahan membuat orang merasa asing, dan kebanyakan orang tidak suka dengan keterasingan di dunia makin menua ini.

mohon maaf lahir batin