04 September 2010

Wawancara Imajiner dengan Sang Wakil Rakyat


Kemarin, saya terlambat datang pada acara sosialisasi gedung DPR yang baru. Maklum saja, saya bangunnya kesiangan. Sampe DPR baru jam satu siang. Akhirnya gak dapat apa-apa. Untunglah secara gak sengaja saya ketemu dengan wakil rakyat. Gak pikir panjang saya minta waktunya sebentar untuk wawancara mengenai gedung DPR yang baru.

Karena bingung saya gak sempat bikin beritanya. Cuma ada data mentahnya saja. Berikut rekaman wawancaranya:


Saya tuh heran, kenapa kok wartawan dan media itu terlalu membesar-besarkan gedung DPR yang cuma Rp 1.6 triliun ini. Padahal kan, banyak kantor media apalagi kantor BUMN yang lebih bagus dan lebih mahal dari gedung DPR yang masih dalam tahap pembangunan ini.

Lagian kan tingginya cuma 36 lantai. Cobalah anda main-main ke kawasan Sudirman sana. Di sana, malah banyak gedung yang lebih tinggi. Hampir semuanya 30 lantai ke atas. Masa gedung DPR yang namanya wakil rakyat gedungnya kalah tinggi. Padahal sudah jelas-jelas kalau di negeri ini disebutkan bahwa suara rakyat adalah suara tertinggi. Bukannya suara pengusaha atau suara pedagang kayak di kawasan Sudirman sana.

Jadi, menurut saya, langkah membangun gedung yang tinggi itu langkah yang tepat. Sehingga dalam gedung tersebut tercermin bahwa suara rakyat adalah suara tertinggi di negeri ini.

Mangkanya itu, rakyat seharusnya bangga. Karena cuma di negeri ini suara rakyat dijungjung tinggi dan termanifestasikan dalam betuk sebuah gedung.

Lagian kalau masyarakat belum bisa memperlihatkan kesejahteraannya jangan banyak ngoceh. Diam saja. Kita bantu masyarakat untuk memperlihatkan kesejahteraan negeri ini kepada dunia. Caranya tak usah repot-repot. Simpel saja, cukup dengan menunjukkan kesejahteraan wakil-wakil rakyatnya kepada dunia. Salah satunya yah memperbagus tempat bekerja para wakil rakyat.

Kalau wakilnya sejahtera, otomatis kan pandangan dunia menganggap orang-orang yang diwakilinya juga sudah sejahtera.

Makanya itu, untuk memperlihatkan kesejahteraan para wakilnya, saya berharap di Gedung DPR yang baru itu nanti ada kolam renang, tempat lobi antar fraksi. Tempat rekreasi, ada karaoke. Tempat spa. Ruang kerjanya diperluas.

Dikira enak apa kerja di DPR. Duduk lama-lama tanpa ngomong, kayak kambing congek. Gaji gak seberapa. Capek tau!
Lagian kan dari pada uangnya habis buat spa dan renang di hotel mendingan uangnya dikelola sama koprasi DPR. Jadi uangnya kembali ke kita-kita juga.

Makanya wartawan dan masyarakat jangan asal ngomong. Jangan asal tuduh. Jangan banyak mengeluh. Bilang kita keterlaluan lah. Kerja gak bener. Korupsilah. Padahal uang Rp 1.6 triliun ini buat bangsa dan negara juga.

Menurut saya, orang-orang yang menolak gedung baru DPR harus dicurigai sebagai anti pembangunan. Bisa jadi menolak ideologi pancasila juga. Berbahaya kalau terus dibiarkan. Kita nanti akan desak polri untuk menindak orang-orang yang anti pembangunan.

Berbahaya jika dibiarkan berkeliaran. Bisa mengancam disintegrasi bangsa.
Ya sudah, gituh ajah dulu yah. Udah lapar nih. Belum makan. Mau makan dulu.

*saya baru nyadar inikan belum waktunya berbuka.



Anda liat baik-baik fotonya. Megah bukan?

28 August 2010

Kamu adalah Stiker di Sepakbor motormu

Selalu saja ada cara untuk berkomunikasi dengan liyan. Mulai dari update status di facebook, berkicau di twitter, pakai pin di baju, pasang atribut, atau cuma sekedar pasang stiker di spakbor belakang atau kaca belakang mobil (jika anda punya mobil tentunya).

Pesan yang terkandung dari komunikasi tersebut pun beragam adanya. Dari satu pernyataan pribadi akan sesuatu yang dianggap penting, cara bilang bahwa kita adalah bagian dari satu komunitas yang lebih besar sampai sekedar mengutarakan simpati (atau antipati) terhadap satu ide.

Dunia tempat kita hidup memang sudah serba bising. Semua bersama-sama berebut corong bicara ke khalayak ramai. Hidup di dunia yang semacam ini, punya satu cara untuk menyatakan diri mungkin memang jadi penting.

Satu hal yang sering saya catat dan sengaja saya catat adalah cara komunikasi manusia lewat stiker yang menempel di spakbor belakang. Di Jakarta, juga di kota-kota lain yang sering macet, stiker yang menempel di spakbor belakang memang cara efektif untuk berkomunikasi. Sebab, kemacetan dan antrian yang mengular bisa dengan mudah pengendara motor dibelakang untuk melihat stiker yang ada didepannya.

Dari hasil penyelusuran, saya golongkan beberapa stiker yang menempel di kendaraan yang saya temui.

Pertama, stiker yang isinya bilang bahwa si empunya motor adalah bagian dari satu komunitas besar. Biasanya tertempel nama universitas tempat dia kuliah, tempat perusahaan dia bekerja, atau profesi si empunya motor. Biasanya isi stiker ini bunyinya, Universitas Indonesia, Bank Indonesia, atau Press.

Kedua, stiker yang isinya peringatan atau warning untuk hati-hati. Stiker ini isinya mewanti-wanti pengendara yang ada dibelakangnya. Misalnya: Awas Nabrak, Hati-Hati Jangan Ngebut, Kau Aman di Belakangku, Motor Aparat- Jangan di Maling. Atau kadang isinya seruan untuk beribadah. Sholat dan Tilawah. Dll..

Yang ketiga, saya masukkan dalam kategori provokasi. Stiker ini lebih keras isinya karena berani mengutarakan antipati terhadap satu ide

Misalnya, Yang Lambat Pasti Ketinggalan.
Atau yang punya motor matik: Hari Gini Oper Gigi- Cape Deh, atau sengaja bermain pantun. tapi isinya tetap saja kebanggaan naik matik: Kain Batik Burung Gelatik Motor Matik Pacar Cantik.

Balasannya pun tak kalah sengit. Lelaki Sejati Pasti Oper Gigi,atau sindiran halus: Motor Gak Pake Gigi-Nenek Gue Kali.
Ada juga yang lebih mawas diri. Lebih Baik Oper Gigi Dari Pada Oper Kredit. Haha..

Namun, dari semua itu, yang bikin saya terkagum-kagum adalah isi gantungan yang ada di bawah ini:

17 August 2010

Terjajah di momen kemerdekaan

Hari Selasa. 17 Agustus. Perempatan belakang Kejagung tampak begitu tenang hari ini. Tak terlalu macet. Mungkin karena hari libur batinku.

Tapi, tiba-tiba raungan serine memecah kesunyian jalanan. Satu motor menghadang lalu lintas di lajurku. Lalu dengan cepat belasan mobil melintas dengan kecepatan tinggi. dengan klakson menghentak dan menghardik. dengan seenaknya menerobos lampu merah yang sedari tadi menyala.

Saya coba ikuti. Ingin tahu siapa punya ulah di hari kemerdekaan sekarang ini. tak ada identitas. Namun dari beberapa mobil terpasang sticker yang sama di kaca belakangnya. Selintas terbaca Low Brain. Siapa pula low brain ini, pikirku.

Sampai di Jalan Asia-Afrika konvoi mobil bergabung dengan puluhan konvoi sepeda motor. Beberapa pemuda berseragam sekolah SMA terlihat menghentikan arus lalu lintas dengan kibaran bendera.

Serine terus meraung dari beberapa mobil. Klakson-klakson terus menghardik motor atau mobil yang menghalangi jalan mereka. Puluhan motor dengan penumpang berpenampilan seragam tampak sumringah sembari mengibar-ngibar bendera. Tak ada helm. Hanya berbekal atribut merah putih dan bendera. Merah putih begitu semarak. Terus dikibarkan untuk menghadang laju mobil dari simpang yang lain.

Inikah saat yang tepat untuk merasa bangga? Momen kemerdekaan yang nyata? Ketika sang saka begitu digdaya ditinggikan? Lalu kenapa perasaan yang spontan muncul dalam benakku justru umpat dan despise?