19 December 2012

Identitas Itu...

Malam kemarin saya nonton film Inglourious Basterds yang dibintangi Brad Pitt. Film lama buatan tahun 2009. Film parodi yang disutradarai Quentin Tarantino ini membuat saya tersenyum-senyum di sepanjang cerita. Terasa sekali kalau Tarantino membuat film kritik ini sambil main-main.

Salah satu yang menarik dalam film tersebut adalah ketika terbongkarnya identitas mata-mata Amerika yang ditugaskan membantu operasi Kino. Operasi Kino adalah sebuah operasi rahasia yang bertujuan membakar perwira-perwira tinggi SS, temasuk pemimpin tertinggi, Hitler- di dalam bioskop.  

Nah, terbongkarnya identitas si mata-mata oleh prajurit Jerman sepele sekali: gara-gara keliru mengacungkan jari saat memesan minuman di sebuah kafe. Si mata-mata mengacungkan telunjuk, jari tengah dan jari manis untuk mengisyaratkan “tiga”. Padahal orang Jerman biasanya mengacungkan jempol, telunjuk dan jari tengah untuk mengisyaratkan “tiga”.

Sekedar informasi, orang Jerman mengacungkan jempol untuk menyatakan “satu”. Ibu jari dan telunjuk untuk dua, begitu seterusnya hingga “lima”, di mana kelingking adalah jari yang terakhir diangkat. Sementara, orang Amerika sama seperti di Indonesia, mengacungkan telunjuk untuk “satu”, telunjuk dan jari tengah untuk “dua”, dan begitu seterusnya hingga “lima” dengan ibu jari yang paling terakhir diangkat.

Beda di Indonesia, beda di Jerman, beda juga di Serbia. Di Serbia, “satu” dimulai dengan mengacungkan kelingking dan terakhir mengacungkan ibu jari untuk "lima".

Kecil tapi signifikan dalam sebuah identitas.  Begitulah identitas. Hal-hal kecil, sepele, namun sudah melekat menjadi sifat bawaan dalam aktivitas sehari-hari.  Sampai kita sendiri biasanya tidak menyadari.

Memang seperti itulah identitas. Dipengaruhi oleh budaya setempat dan bahkan keluarga. Entah  untuk orang lain, tapi dalam kasus saya, cara melipat pakaian, cara menyetrika, atau cara mencuci, semuanya saya tiru dari bagaimana cara ibu melakukan itu semua. Begitu juga dengan makanan. Saya menganggap makanan yang enak itu makanan yang mendekati masakan ibu. Subjektif memang, tapi itulah identitas menurut saya.

Entahlah..

1 comment:

Mustofa said...

Assalamualaikum...singgah perdana...nice entry...