19 November 2007

Max Havelaar

Siapa sih yang tak kenal Douwes Dekker? penggagas politik balas budi di masa penjajahan Belanda di Indonesia? Ia yang dikenal dengan nama penanya Multaluli, yang karena laporan nya, yang berjudul Max Havelaar, yang ia dedikasikan untuk kerajaan belanda, yang dinilai memiliki sastra tinggi, laporan yang mampu menggerakan hati pemimpin tertinggi bangsa colonial tersebut untuk akhirnya mau menurunkan kebijakan politik etis. Siapa yang tak kenal? Namanya telah dipelajari dibangku-bangku Sekolah dasar di seluruh Indonesia walaupun hanya sekilas.

Namun, siapa saja yang sudah membaca karyanya? Pastinya lebih sedikit. Dan pecan kemarin saya akhirnya bisa menemukan buku yang sudah lama saya cari-cari tersebut, terpajang di rak perpustakaan. Dan betapa senangnya saya waktu itu, seperti menemukan hartakarun saja. Dan ternyata lumayan butuh waktu lama untuk menghatamkan buku jaman baheula tersebut.
Dan pada keksempatan ini saya sedikit berbagi cerita dari buku yang berjudul Max Havelaar atau anak judul lain ialah Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda.

Max Havelaar ditulis oleh Multaluli pada tahun 1859 di Belgia. Buku yang ditulis dengan gaya bahasa aku ala Multaluli ini, di Indonesia diterjemahkan oleh H.B. Jassin langsung dari bahasa aslinya, Belanda. Buku ini disusun dari pengalaman2 pribadi Dekker di Bumiputera (sebutan Indonesia jaman dahulu) tepatnya didaerah Lebak sebagai asisten residen. Pekerjaannya sebagai asisten Residen tersebut ia dapat melihat dengan dekat ketidakadilan dan penindasan terhadap penduduk Bumiputera waktu itu. Makanya tak heran jikalau buku isi buku ini mengandung gugatan yang tajam terhadap pemerintahan Hindia Belanda atas ketidakadilan dan penderitaan rakyat.

Jeniusnya Multaluli membungkus buku yang mengandung gugatan tersebut ditulis dengan gaya sebuah roman dengan keindahan bahasanya. Anda akan terantuk paragrap sebuah puisi dari Saijah ketika akan berpisah dengan Adinda:


Bila aku mati di Badur, dan aku ditanam di luar desa, arah ke
Timur di kaki bukit yang rumputnya tinggi;
Maka Adinda akan lewat di sana, tepi sarungnya perlahan
mengingsut mendesir rumput,....
Aku akan mendengarnya.

Atau sajaknya Saijah saat menanti Adinda ditutup dengan:

Maka malaikat melihat mayatku
Diberitahunya saudara-saudaranya, ditunjuknya ma-
Yatku dengan jarinya
“lihatlah, nun jauh disana ada seorang mati ter-
lupa
Mulutnya kejang mencium kembang melati
Marilah, kita angkat dia kita bawa ke surga
Orang yang menunggu Adinda sampai mati
Sungguh, ia tak boleh tinggal sendiri
Orang yang matinya begitu keras mencinta
Maka sekali lagi mulutku kejang akan membuka
Untuk memanggil Adinda yang kucinta
Sekali lagi kukecup melati
Yang dia berikan ..... Adinda .....Adinda !



Di akhir buku ini multalui menekankan tujuan dari penulisan bukunya dengan kalimat.

Aku mau dibaca! Ya, aku mau dibaca ! aku mau dibaca oleh negarawan-negarawan yang berkewajiban memperhatikan pada tanda-tanda zaman. Oleh sastawan-sastrawan yang yang juga hrus membaca buku itu yang begitu banyak dijelek-jelekan orang...

Ya aku bakal dibaca !
Maka akan kuterjemahkan bukuku dalam bahasa melayu, Jawa, Sunda, Alifuru, Bugis, Batak...
Dan akan kulontarkan lagu-lagu perang pengasah kelewang kedalam sanubari pejuang-pejuang syahid...



Dalam penutupan bukunya Multaluli menggambarkan indonesia dengan sangat indah sebagai ..yang menlingkar nun disana di khatulistiwa laksana sabuk jamrud...
Di tutup dengan kalimat yang akan saya pikir akan menggetarkan hati seorang pemimpin, dengan sentuhan yang dalam dimana buku ini ditulis untuknya...

Dan bahwa nun disana rakyat Tuan yang lebih dari tiga puluh juta disiksa dan dihisap atas namamu?

4 comments:

senyumlah pada dunia said...

asl...maaf nulis disini,shout boxnya trouble....

mas bambang.... mo nanya! Jurusan Apa, dan angkatan apa?,

aroengbinang said...

karya sastra dan kemanusiaan yg tak akan pernah lekang oleh waktu, karena selama bumi berputar, ketidakadilan dan penindasan akan selalu ada....

SUHAIRI ANWAR SYAH said...

dulu saya juga sempat baca. kalau tidak salah yang di kovernya ada gambar saijah dan adinda tu ya? tapi, cuma baru beberapa halaman sudah berhenti. baca postingan sob, saya jadi ingin baca lagi.

Bambang Trismawan said...

Suhairi< itu terbitan yang lama. terbitan yang baru kalo ga salah diterbitin gramedia. covernya cuma warna putih berjudul max havelaar.

dulu juga gitu. beberapa halaman berhenti. sering kehilangan maksud tulisannya.
baru setelah baca 3-4 kali/halaman saya mengerti. capek baca max havelaar. tapi asyik!