12 May 2010

Jangan Menyerah, Brother!



Api berkobar menyala terang menerangi langit kota. Fasilitas riset merangkap workshop produksi besar di mana seluruh pekerjaan Edison hingga hari itu terbakar sudah.

Edison berdiri tak berdaya menatap kobaran api yang membakar hampir seluruh kertas kerja, ide-ide dan data penelitiannya. Namun tak keluar sedikitpun komentar penyesalan atau emosi yang meluap-luap dari bibirnya. Yang terucap justru komentar optimisnya di depan api yang menyala tersebut "Semua salah perhitungan dalam ide-ide dan penelitian-penelitian kemarin lenyap bersama api ini. Besok kita bisa mulai lagi dari awal, bebas dari segala beban kesalahan tadi ..."

Cerita yang kemudian terjadi adalah tercatatnya Edison sebagai salah satu inovator terbesar dunia hingga saat ini.

Yang terbayang dalam benak saya adalah jika saja saat itu Edison menyerah di hadapan api yang membakar habis gedungnya. Mungkin bola lampu tak pernah tertemukan.
Pertanyaan saya selanjutnya adalah apa yang membuat Edison tidak menyerah? Sedangkan segala alasan untuk menyerah sudah ada di depan mata. Bahkan orang-orang saat itu akan memaklumi jika ia akhirnya menyerah.

Jawaban yang saat ini saya temukan tentang pertanyaan di atas adalah semata-mata adanya harapan. Karena Edison masih melihat adanya harapan. Harapan untuk melihat segala apa yang ia mimpikan masih mungkin terwujud. Tak peduli seberapa besar harapan itu sehingga kata menyerah tak terucap dari bibirnya.

^^^

Sekarang mari kita berbicara tentang harapan.
Lionel Tiger dalam buku “biologi harapan” mengatakan bahwa manusia adalah “makhluk yang memiliki bakat besar untuk berharap".
Mungkin benar. Namun adakalanya manusia terbentur keadaan hingga tak sanggup lagi untuk berharap. Bak menabrak kaca benggala yang tak mungkin pecah atau retak. Walaupun masih bisa berharap. Kadang harapan mereka adalah sesuatu yang datang dari luar dirinya. Bukan harapan atas keyakinan kepada apa yang ada di dalam dirinya. Seperti mereka yang berharap datangnya Ratu Adil saat tertindas. Semakin mereka tertindas semakin kuat harapan mereka bahwa sang Ratu Adil akan hadir di akhir cerita membawa keadilan. Seperti mereka yang berharap akan keberuntungan angka-angka yang akan mengeluarkannya dari pahitnya kemiskinan.

Maka yang dibutuhkan untuk melengkapi harapan adalah kerja keras, usaha, dan do'a yang tak kenal lelah. setidaknya bilamana harapan pada akhirnya menemukan kegagalan, seorang yang telah sungguh-sungguh berjuang akan dengan kepala tegak menghadapinya. Keadaan seperti ini terekam dengan indah dalam dialog antara Minke adan Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia-Pram, Ketika segala daya upaya mereka untuk mendapatkan Annelis untuk tidak di bawa ke Belanda ternyata gagal.

“Kita kalah, Mak?” kata Minke
“Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.”

Begitulah bila segala daya upaya sudah kita usahakan namun toh pada akhirya hanya kegagalan yang ditemui. Di sana kita tetap tegak menerimanya dan siap mengatakan: Apa yang terjadi, terjadilah!

Karena kita sadar ada yang setia mencatat setiap usaha dan kesungguhan menjadi amal.

Sukabumi-Malang-Sidoarjo.

5 comments:

Nisye said...

like thiss..

mbah jiwo said...

bambang, jangan menyerah ya nak...

OEN-OEN said...

ganbatte kudasai

artinya semangat terus seperti kuda

:P

Ibel_abel said...

keren oy......mantap...ini baru Bembeng...

Bambang Trismawan said...

Nisye < okelah!

mj< nggih, Mbah..

oen< ternyata bahasa jepangnya kuda.. kudasai ya? mirip-mirip ternyata

ibel< ciao..!!