06 August 2009

Tetra Putri: Tuhan, Iman, Realita.

Namanya Tetra Putri. Lengkapnya Tetra Putri Sembiring. Hampir setengah tahun yang lalu saya mengenalnya. Selama itu, saya belum pernah bertemu dengannya. Maklum, saya mengenal, dan menjalin komunikasi dengannya, (hanya) lewat dunia maya. Ia salah satu temanku di dunia maya yang masih “maya”. Terus terang, sampai sekarang saya sedikitpun tak tahu bagaimana posturnya. Saya hanya bisa menerka-nerka seperti apa ia dari kepingan informasi dari tiap komunikasi yang terjalin dengannya. Dan dalam imaji saya itu, ia memiliki tinggi yang biasa-biasa saja, dengan perawakan yang mungkin tak semampai-semampai banget, mungkin malah cenderung sebaliknya. Rambutnya yang lebat dibiarkannya terurai panjang.

Lahir di salah satu kota Jawa Barat dan tumbuh besar di Bandung. Keluarga yuridis berdarah Batak-Sunda. Milih nyelesain SMA nya di Bandung lalu melanjutkan studi Hukum di Universitas Brawijaya Malang. Jagonya kalau menulis cerita, mulai dari cerita lucu sampai cerita romantika khas film-film korea. Pekerja keras. (Apalagi kalau bukan pekerja keras jika masih kuliah saja ia sudah kerja?). Pintar, jenaka pula. Koleksi tulisan ceritanya banyak temempel di blognya. Bekerja di salah satu firma hukum.

Namun itu dulu... sebelum sesuatu yang besar menimpanya. Sekarang rambutnya dipotong pendek, bahkan teramat pendek...dengan kerontokan yang sulit dihentikan. Tubuhnya mengering... Hari-harinya sekarang banyak dihabiskan di rumah dengan Aktivitas terbatas.

Apa yang menimpanya? Saya tak tahu bagaimana ceritanya bermula.
Saya, sekali lagi, hanya bisa membayangkan:
Mungkin pada suatu hari dalam aktivitasnya yang padat, tiba-tiba saja kondisinya menurun drastis. Tak terasa pandangannya mulai kabur, nafasnya tesengal-sengal, tak berapa lama kemudian Tetra jatuh tak sadarkan diri. Dirawatnya Tetra di rumah sakit. Diperiksa dengan menyeluruh kondisi kesehatannya. Darahnya diambil untuk serangkaian tes medis. Ia menunggu, namun masih belum ada hasil. Beberapa ampul darah diambil dan kembali diambil lagi selang waktu tertentu.. ia penasaran dengan apa yang terjadi dengannya, namun hanya disuruhnya ia menunggu.. Mungkin sehari mungkin juga seminggu. Sampai akhirnya Tetra menerima hasil tes medis yang dilakukan para dokter itu. Hasilnya: kanker. Tepatnya kanker darah.

Saya tak pernah tahu bagaimana reaksi ia ketika mendengar seucap kata vonis yang beratnya bak palu godam itu. Terkejut, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin tak ada kata-kata yang bisa keluar dari bibirnya. Lidahnya kelu. Hanya air mata yang menderas...
Atau mungkin ia menjerit histeris... mengetahui bahwa segala mimpi hidupnya yang telah dijaga dan dirawatnya baik-baik harus direnggut secara kasar dan tiba-tiba..

Yang saya tahu selontar perntanyaan akhirnya keluar juga dari bibirnya.. “Kenapa? Kenapa ya Allah? ..ko saya??”

Saya bisa mengerti jika pertanyaan macam itu keluar juga dari mulutnya. Pertanyaan tersebut mungkin akan keluar juga dari mulut saya jika dalam posisinya. Manusia sudah menanyakan hal tersebut sejak lama. Sebagian manusia bahkan kehilangan imannya karena pertanyaan macam ini. Karena pertanyaan tersebut seolah tak terjawab: tiap kali pertanyaan diajukan tiap itu pula membal di hadapan dinding bisu realitas.

Saya pernah terlibat dalam sebuah obrolan serius tentang pertanyaan yang sama dengan seorang teman yang sama-sama hobi berpikir. Tepatnya beberapa hari setelah acara Kick Andy menghadirkan para pengidap penyakit langka. Kalau tak salah ingat, salah satu yang ikut hadir adalah komedian Pepeng. Hasil diskusinya adalah ternyata ada banyak jawaban dari pertanyaan tersebut, dari yang afirmatif sampai negatif, secara theologis ataupun filsafat.... Namun adalah dua hal berbeda untuk bicara filsafat dan theologis di meja diskusi dengan merenungkan masalah ini di hadapan teman baik yang berlinang air mata dan dengan hati yang hancur mengajukan pertanyaan yang sama.

saya masih belum mempercayainya sepenuhnya ketika kabar itu sampai juga pada telinga saya. Pertanyaan “Kenapa” pun sempat terlintas dalam benak saya? Mungkin serangkaian definisi penyebab ia terkena kanker bisa diajukan, namun kenapa Tetra?kenapa Kanker?? Kanker? Kanker diusianya 22 tahun? Tetra masih muda, pintar, humoris, berani. Baru tahun lalu gelar sarjana hukumnya ia terima dari universitas. Kanker?

Mungkin sejak itu tulisan-tulisannya menjadi lebih redup. Atau munkin saya salah karena tak selalu saya mengikuti tulisannya. Jika lebih redup tampaknya perkara hidup mati memang masih punya harga tersendiri: enggan ia berbagi dengan sisi ringan hidup macam canda dan ketawa.

***
Sampai sekarang saya tak punya kata-kata yang bijak buatnya. Tak ada pengetahuan yang bisa dibagi dengannya untuk menerangi keadaannya saat ini. Tak ada nasihat yang bisa diberikan untuk meringankan bebannya. Tak ada jawaban seistimewa apapun itu untuk membuatnya lebih sumringah. Tak ada jawaban apa-apa sefilosofis, dan searif apapun itu. Setiap jawaban filsafat dan logika yang saya coba susun, saya sadari pada akhirnya ketika logika diterjemahkan ke dalam masalah praktis, logika tak memberi penghiburan apapun. Memang, tampaknya penyelesaian masalah praktis bukan dengan jejalan teori. Menyelesaikan masalah orang lapar memang bukan diberi ceramah. Orang lapar solusi praktisnya hanya satu: diberi makan.

Namun, yang terbersit dan yang menginspirasi tulisan ini juga adalah ketika suatu kali saya tak sengaja membaca statusnya di jejaring sosial terkenal yang meminta teman-temannya untuk mendo’a kannya. Saya takjub.
Saya takjub karena melihat satu lagi bagaimana kapasitas manusia masih bisa berdo’a kepada Dzat yang keberadaanya sedang dipertanyakan oleh situasi yang bikin manusia berdo’a. Apakah yang menggerakkannya?? Bukankah itu iman? Bukti dari segala yang tak nampak.


Lewat tulisan ini, kalau boleh saya minta keleluasaan saudara untuk ikut mendoakan teman saya Tetra.
Berdo’a semoga imannya tidak akan salah. Dan semoga Allah memberinya kesembuhan.

1 comment:

capres said...

mas boleh tau lebih banyak tentang tetra putri sembiring?