14 September 2008

Bicara tentang kritik

Kritik memang dibutuhkan dimanapun kita berada untuk meningkatkan kualitas kehidupan.. Tanpa kritik dalam ilmu pengetahuan, kita tak tahu lagi mengapa seorang ilmuwan banyak dipuja-puja sekalipun hasil penelitiannya tidak ada. Tanpa kritik seorang selebriti tiba-tiba menjadi intelektual tanpa kerja apapun yang ada artinya secara intelektual. Tanpa kritik kita juga tidak tahu apa keberhasilan seorang politikus.

Banyak orang bicara tentang kritik yang membangun dan kritik yang destruktif. Padahal kritik yang membangun dan meruntuhkan adalah sebuah pilihan. Kritik akan membangun jika hanya mungkin bila kita bersedia menjadikannya bahan bangunan dan tidak menganggapnya racun dalam makanan.
Tidak ada kritik yang dengan sendirinya membangun sama seperti tidak ada kritik yang dengan sendirinya menghancurkan.

Kritik ibarat hidangan di atas meja. Yang menelannya akan kenyang dan yang menghindarinya akan terus-menerus mengutuk kelaparan.

Etika mengkritik...

Jangan sampai dilupakan, semangat mengkritik adalah semangat mempelajari dengan sungguh-sungguh, mencintai dan kemudian menyatakan bahwa apa yang dicintai itu bisa lebih baik apabila beberapa syarat lain dipenuhi.

Dan hal tersebut yang sering dilupakan oleh para peng-kritik jalanan -seperti saya contohnya-. intropeksi diri sendiri itu yang sering dilupakan pengkiritik otodidak (lha mau kritik ae moso mesti sinao... salah satu kelebihan manusia kan dapat otodidak dalm hal seperti ni: mengkritik hehe..) Apa sebabnya, saya sendiri tidak tahu. Entah atas prasangka pribadi yang menumpuk atau yah...saya ga tahu... (kalau saya tulis berarti saya tau dong).

Bolehkah kita mengkritik orang lain? Atau apa saja…?
Tentu saja boleh, sangat-sangat boleh. Asal saja kita bersedia bahwa dalam melakukannya kita juga akan mengkrtik diri sendiri. Dan bersedia memperbaiki bila ternyata kita juga bagian dari sasaran kritik... bukan hanya berharap jawaban perbaikan dari hal yang dikritisi. Walaupun harapan terbesar peng-kritik adalah jawaban perbaikan .

Kalau kata Samuel Mulya, pengasuh kolom Parodi di Kompas, edisi Muna (klo ga salah), hariii gini ngelepas rumah di Menteng… beraaattt….. mbooo!!

:: Dari yang suka ngritik tapi malesss banget intropeksi saat mengkritik. tuambbah maless klo kena kritik::

lha kalo sampeyan di kritik gimana???

2 comments:

mAULIYAh said...

:: Dari yang suka ngritik tapi malesss banget intropeksi saat mengkritik. tuambbah maless klo kena kritik::

wo....skeptis-hipokrit.ga cucok dijadiin pemimpin,cucoknya jadi pujangga wae haha....

bambangtris said...

wo....skeptis-hipokrit.ga cucok dijadiin pemimpin

yoo... biar kenyang, saya telan saja kritikannya.
dari pada mengutuk kelaparan...