15 October 2011

Perempuan Blues


Perempuan Blues. Begitu aku menyebutnya. Aku bertemu dengannya sebulan yang lalu di sebuah kafe di pinggiran Jakarta.

Malam itu, dia datang saat pertunjukkan blues -yang digelar rutin tiap Jum'at malam- sudah setengah jalan.
Tak ada yang mencolok dengan penampilannya saat pertama kali bertemu.
Seingatku, malam itu ia cuma mengenakan celana jeans biru pudar dipadu dengan kaos putih yang dibalut blazer cokelat muda. Tak mencolok, namun cukup untuk mengalihkan perhatian semua pengunjung dari kesibukkannya.

Apa yang membuat ia sebegitu menarik perhatian? Rambutnya? Mungkin matanya. Matanya mengkilatkan sesuatu yang akrab dengan pengunjung. Entahlah.

Dia memilih tempat tak jauh dari samping mejaku. Memesan kopi, kemudian menyandarkan punggungnya pada sofa. Saat menyandarkan punggungnya itu aku melihat ia begitu lega, lepas seperti membuang beban yang selama ini dipikulnya.

Aku lekas mengalihkan perhatianku pada kopiku. Tapi aku yakin sempat melihat titik air mata keluar dari sudut matanya.

Entah mana yang lebih memesonaku saat itu. Lengkingan gitar yang penuh rasa menyayat-nyayat hati di depan sana, atau wajah cantik yang dilanda mendung, di sampingku.

Selama pertunjukkan blues, aku meliriknya beberapa kali. Kopi di atas meja sudah tak menarik perhatiannya. Ia menerawang menikmati alunan blues.

Sejak saat itu, aku menyengaja datang ke kafe itu untuk bertemu dengannya. Kadang dia yang lebih dulu datang, kadang aku yang lebih dulu menunggu. Masih di tempat yang itu-itu juga. Hanya bertemu tak pernah menyapa, apalagi mengobrol.

Namun setiap kali bertemu ia di kafe selalu ada kebas setiba aku di kamar. Ada rasa, namun tak dapat aku mendefinisikan di mana letaknya. Seperti rasa kopi yang masih tercecap di ujung lidah.

Bayangan perempuan blues itu diam-diam menyelinap dalam hatiku. (Bersambung)

1 comment:

Intan Hairani Fitri said...

keren.. aku suka blognyaa