09 May 2011

Sepotong Cerita Dari Wakatobi (Tentang Film The Mirror Never Lies)




Beberapa hari kemarin saya menonton beberapa film baru buatan anak negeri. Dari beberapa film, yang bagus di ulas sepertinya cuma satu: The Mirror Never Lies (TMNL).

Film ini karya sutradara Kamila Andini. Sementara pemainnya Atiqah Hasiholan, dan (lagi-lagi) Reza Rahardian (kenapa bioskop kita sepertinya sulit lepas dari wajah satu ini?).

Setelah nonton, saaya percaya bahwa bakat, bisa diwariskan dari ayah ke anaknya. Seperti kemampuan Kamila Andini yang mampu menampilkan sisi-sisi artistik dari sebuah film. Kemampuan menangkap sisi artistik itu mungkin saja memang turun dari gen ayahnya, Garin Nugroho.

Menonton film ini saya teringat film Brokeback Mountain. Jika film yang disutradarai Ang Lee itu mengeksplor latar pegunungan maka TMNL mengeksplor pesisir pantai, dan laut Wakatobi.

Sama seperti Brokeback Mountain, TMNL mungkin bisa jadi nominasi best picture di Indonesia Movie Awards. Karena meski menghadirkan cerita yang tak biasa, menurut saya, keindahan alam Wakatobi jadi jualan utama film ini.

Kamera benar-benar mengeksplor penuh setiap sudut Wakatobi dimana ia bisa mengambil gambar. Jadi jangan heran, berbagai keindahan di Wakatobi tersaji di film ini. Siluet senja, gugus awan, semburat fajar, hamparan laut, bentang pantai, lengkung pelangi, terumbu karang, alam bawah laut, jadi latar kebanyakan adegan film ini.

Di mana Wakatobi? Dia tepat di ujung bawah kaki kanan pulau berbentuk huruf K, Sulawesi Tenggara. Namun karena terus menerus menampilkan suasana alam yang indah, apalagi dengan tempo yang lambat, terus terang, saya beberapa kali menguap bosan.

Apalagi kebanyakan latar musik mengambil nada-nada rendah. Tambah mengantuklah saya. Mungkin untuk menggambarkan kekosongan, kehampaan dan penantian seorang Tayung. Untunglah film ini tertolong oleh tiga anak suku Bajo yang lucu. Lumayan membuat segar.

Andai saja Kamila Andini menghadirkan gambar-gambar pembanding, misalnya, dengan menayangkan gambar gedung beton yang dingin, sampah menumpuk, semrawut kota, saya kira akan lain ceritanya. Saya kira kebosanan tak akan banyak menyergap penonton.

Beralih ke ceritanya. TMNL bercerita tentang diary Pakis (Gita Novalista), seorang anak suku Bajo yang menanti kedatangan ayahnya yang pergi melaut. Meski disebut-sebut ayahnya sudah meninggal, Pakis tak mau percaya. Tiap hari ia menunggu kedatangan ayahnya. Suku Bajo adalah satu-satunya suku di Indonesia yang membuat perkampungan di laut.

Pakis adalah anak Tayung (Atiqah Hasiholan). Jika Pakis yang tak mau mempercayai kematian ayahnya, maka Tayung leih realistis. Tayung meyakini jika suami yang ditunggunya telah mati dan meinta Pakis untuk mempercayai kematian ayahnya. Di sinilah konflik muncul. Saat penantian itulah datang Tudo (Reza Rahardian), seorang peneliti lumba-lumba, yang sayangnya tidak mengambil tempat yang sangat penting dalam film ini.

Tudo, sebagai peneliti yang membawa laptop, sepertinya sebagai tokoh yang meyadarkan penonton bahwa film ini berlatar di dunia yang kita hidupi saat ini. Bukan masa lalu. Karena tanpa kehadiran Tudo, penonton akan kesulitan menentukan latar waktu film ini. Teknologi canggih yang tertangkap kamera selain laptop dan peralatan penelitian milik Tudo, hanya parabola.

Padahal jika diambil latar kehidupan Tudo, dengan Jakarta tempat asalnya, konflik hidup sebelumnya, saya kira konflik akan lebih dalam dan rumit.

Selain itu, meski film ini di dukung World Wide Fund for Nature (WWF), namun pesan-pesan lingkungan kurang terasa dalam film ini. Saya tak tahu, Kamila seperti ragu-ragu, atau mungkin takut, dan tak berani untuk menyampaikan pesan kepedulian lingkungan. Pesan lingkungan benar-benar terbungkus rapi dalam dialog-dialog dan pesan-pesan ayah Pakis, tokoh yang sebenarnya abstrak.

Andai saja, TMNL mampu seberani Happy Feet dalam mengkampanyekan kepedulian lingkungan, saya kira TMNL akan menjadi film yang layak diacungi empat jempol.

Padahal jika dilihat, masalah kelestarian sumberdaya laut yang ada di TMNL, hampir sama yang ada di film Happy Feet. Ikan yang semakin jarang, sampah yang menumpuk di laut, penangkapan ikan yang tak terkendali, semakin jauh tempat menangkap ikan nelayan kecil, adalah masalah-masalah yang sama.

Lepas dari itu semua, film ini sungguh menggambarkan potongan kehidupan orang-orang di sudut lain Indonesia. Kehidupan lain yang penuh kesederhanan dan kearifan sebuah budaya.

Indonesia ternyata bukan cuma Jakarta.
Selamat menonton..

1 comment:

Erik Marangga said...

Penasaran Bam. Film lama? Pengen lihat! tapi d Batam sini, saya mau nonton sama siapa ya?