06 April 2011

Menggugat kekerasan (Tentang Film Tanda Tanya)



Jika ada yang menganggap kekerasan sebagai jalan keluar untuk menyeragamkan perbedaan. Maka film berjudul ? (baca: tanda tanya) memaksa kita bertanya ulang, berpikir ulang dan menguji kembali hipotesa tersebut.

Seingat saya, ? memang bukan film pertama yang mengangkat tema keberagaman. Sebelumnya, film Cin(t)a, dan 3 Cinta 2 Dunia 1 Cinta, terlebih dahulu menghadirkan konflik yang muncul dari perbedaan agama.

Namun kedua film yang saya sebutkan di atas sepertinya kurang menggambarkan utuh konflik sosial keberagaman dan keberagamaan di tanah air. Padahal dalam kondisi sosial masyarakat kita, seringkali sejumlah kasus kekerasan muncul justru bukan dari masalah perbedaan agama.

Entah itu tetangga yang kalah main kartu yang kebetulan berbeda agama kemudian adu mulut, entah itu anak kalah main bola yang kebetulan orang tuanya berbeda agama, namun tiba-tiba merembet keprsoalan agama dan boommm.. menyalalah kekereasn. Dalam salah satu scene film ini menggambarkan cerita di atas. Bahwa kekerasan agama terkadang bukan karena masalah perbedaan agama, tapi karena ego manusia.

Meski bukan hal baru, ? mengangkat tema yang masih tabu dan sensitif di masyarakat. Tabu karena perbedaan agama menjadi topik yang jarang dibicarakan bersama. Orang lebih banyak menjadikannya sebagai prasangka. Namun ? berani menghadirkannya utuh ke sidang penonton untuk sama-sama ditanyakan ulang, dan dibicarakan bersama.

Saya salut, karena masalah yang banyak mengendap di benak banyak orang namun jarang dibicarakan, tersampaikan utuh ke sidang penonton. Sehingga mau tak mau memaksa untuk menjadi perhatian bersama. Apalagi mampu disuguhkan dalam cerita yang bagus. Meluas sekaligus mendalam.

Makanya, tak heran jika dalam film ?, kamera masuk menelisik ruang-ruang pribadi. Seperti miskroskop, ia menoropong konflik kehidupan sesehari tokohnya. Mulai dari kamar tidur, berangkat ke tempat bekerja sampai ke rumah-rumah ibadah. Masjid, Gereja, dan Kelenteng.

Untunglah sutradara sangat memperhatikan detail properti, adat dan budaya di mana adegan berlangsung. Sehingga bisa menampilkan cerita seperti dalam keadaan sesungguhnya.

Menurut saya, memang penting untuk sebuah film seperti ini menggambarkan utuh setiap informasi dari keragaman yang ada di wilayah tersebut. Kenapa? agar orang bisa mengambil sikap terhadap keberagaman. Mengetahui keberagaman membuat orang lebih toleran.

Secara keseluruhan, ? menceritakan tentang keterombang-ambingan, keterasingan, kerinduan, frustasi seseorang dengan hubungan keluarga juga agama leluhurnya. Sebuah masalah yang mungkin akrab ditemui sang sutradara Hanung Bramantyo saat masih kecil. tumbuh dilingkungan beragama Islam, Katolik dan Budha.

Dalam ?, Hanung Bramantyo memperkenalkan satu persatu tokohnya dengan setting sebuah perkampungan di sebuah Gang Kota Lama, Semarang. Tak ada tokoh yang menjadi lakon utma dalam film ini. Semua tokoh mendapatkan porsi yang sama, sehingga saya kira penonton akan kesulitan menentukan siapa tokoh utama dalam film ini.

Salah satu tokoh dalam film ini menceritakan kehidupan Rika (Endhita) yang memutuskan untuk bercerai dengan suaminya karena menolak dipoligami. Rika pun pindah agama dari Islam ke Katolik dan menjadi single parent. Namun begitu, anaknya, Abi, dibiarkan tetap beragama Islam. Bahkan Rika mengajari Abi sholat, ngaji dan berpuasa. Meski awalnya Rika terombang-ambing oleh keputusan yang telah dibuatnya. Apalagi dengan masyarakat sekitar dan orangtuanya yang masih belum menerima keputusannya. Dan lain-lain dan lain-lain.


Sayangnya, judul film ini kurang ekspresif. Kurang bisa menggambarkan isi cerita. Kenapa judulnya ?. Hanung mengaku kesulitan untuk menggambarkan kondisi sosial di filmnya tersebut. Saya kira Hanung bukan tidak bisa, Hanung cuma miskin kata-kata. J

Okelah, dari pada saya sok tahu dan banyak bicara, mendingan nonton sendiri filmnya. Alih-alih bisa bantu Mas Hanung untuk memberikan judul film ini. Lumayan kalau bisa membantu, hadiah seratus juta sudah menanti.

Selamat menonton.

1 comment:

Erik Marangga said...

Sayangnya saya putus hubungan dgn film untuk sementara ini. G ada bioskop yg nyaman. hikss...!