18 December 2009

Dangdut is the medicine of my country



Apakah Anda penggemar musik dangdut?
Saya yakin, sebagian besar dari anda mungkin akan menjawab bukan. Karena berbagai alasan: Kampungan, liriknya tentang cinta monyet, lagunya mendayu-dayu, penyanyinya berambut ikal tak terurus, goyangannya kadang nyerempet-nyerempet, dan dengan seribu satu alasan lain yang anda miliki kenapa anda bukan penggemar musik dangdut.

Tapi tunggu dulu. Simpan dulu nyinyir anda. Simpan dulu telunjuk anda untuk menuduh kampungan. Terlepas`dari itu, bagi puluhan juta (atau mungkin ratusan juta) orang Indonesia, musik dangdut adalah obat. Obat dari berbagai macam penyakit.
Dangdut itu seperti aspirin yang langsung meredakan sakit yang meyerang kepala. Ia obat yang cespleng. Mujarab seketika untuk meredakan tekanan kehidupan yang menghimpit.. Dari belitan hutang, tekanan majikan, beban pekerjaan. Sempitnya lapangan pekerjaan, keterbatasan pilihan bidang pekerjaan, dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Saat musik dangdut diputar dengan volume yang besar dan musik mulai mengalun, saat itulah perlahan beban mulai menguap sampai hilang sama sekali. Sementarakah efeknya? Iya, hanya sementara. Tapi itu cukup, seperti oase di padang pasir, tempat singgah sementara para musafir dalam mengisi bekal air untuk kembali menaklukan padang pasir. Musik dangdut seperti wisdoms message bagi para karyawan kota yang merasa ada kekosongan dalam hidupnya. Mungkin karena itulah lirik-lirik musik dangdut punya tema yang sangat luas. Ia kadang begitu lugas menggambarkan kehidupan para pendengar setianya. Bang Toyib, Mulio Sri, Kucing Garong, Sms siapa, dll. Mungkin sambil bergoyang para pendengar ini tersenyum kecil karena cerita hidupnya sedang didendangkan.

Itulah kira-kira yang saya amati selama berkumpul dengan orang-orang pekerja berat. Pekerja berat dalam artian upah mereka tidak bisa meringankan beban kehidupan mereka. Sekeras apapun mereka bekerja upah hanya cukup untuk beberapa hari sahaja. Seperti Sisipus yang ditakdirkan menggelindingkan batu ke puncak bukit hanya untuk meluncurkannya kembali ke lembah.

Maka mendengarkan musik dangdut adalah semacam terapi dari stress. Mendengarkan dangdut Inilah yang menjadi salah satu titik kegembiraan yang bisa ditemukan secara cuma-cuma. Tentu saja ada kegembiraan lain yang juga mereka idam-idamkan. Rumah yang layak, penghasilan yang mencukupi dan tidak sekedar pas-pasan, biaya sekolah untuk anak, memiliki mobil. Tetapi untuk jadi gembira mereka tidak bisa menunggu sampai harus punya uang banyak dan memiliki mobil dulu. Yang entah sampai didapatkan. disanalah musik dangdut menempatkan diri. Sebagai jalan alternatif meraih kegembiraan yang instan yang bisa mereka dapatkan dengan cara yang murah dan singkat.

Jadi, beruntunglah Indonesia yang punya musik dangdut dan memiliki seniman-seniman dangdut yang hebat. Dan seharusnya berterima kasih pulalah pemerintah kita kepada seniman-seniman dangdut ini, yang sampai sekarang belum bisa memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakatnya. Sehingga, berkat seniman dangdut inilah puluhan juta orang tidak perlu ke Puskesmas hanya untuk mendapatkan obat pusing, sakit kepala atau masuk angin macam aspirin atau paracetamol. Berkat seniman dangdut inilah anggaran belanja negara terselamatkan untuk membeli berton-ton aspirin dan paracetamol.

Sekali lagi, Anda mungkin bukan penggemar musik dangdut. Tapi jika diam-diam lutut anda bergoyang dan jempol anda bergerak berirama ketika mendengar musik dangdut. Maka, sebenarnya Jauh di dalam diri Anda sendiri, anda adalah seorang dangdut mania.
Tak usah malu tapi berbahagialah, karena anda punya peluang untuk gembira dengan cara yang murah.
Selamat bergoyang!
Tarriiikk maannng....!!

6 comments:

secangkir teh dan sekerat roti said...

dangdut oh dangdut, hehe

Bambang Trismawan said...

geboy...mang!!

UUN UMAR ROBI said...

mesti terilhami dari lagunya project pop ya boz, "dangdut is the music of my country", mantep tapi opininya, i like it..

Hamid said...

Hidup ini indah kawan....dengan dangdut...

hidup ini merdeka kawan...dengan dangdut....

hidup ini bagaikan raja kawan...dengan dangdut...with the king of dangdut....

Hamid Irama...hehe :)

Bambang Trismawan said...

Uun< kalau judulnya memang terilhami dari project pop. tapi untuk proses penulisan lebih terilhami dari pengalaman pribadi. maklum, berdekat rapat dengan para dangdut mania.


Hamid< Hidup ini indah kawan. makanya tak pantas kalau mengeluh.
salam bang haji. kapan mau tampil lagi di Malang nih?

Erik Marangga said...

jadi ingan Punk in Love.ada satu tokoh anak punk g diam2 selalu bergoyang ketika mendengar musik dangdut tp kemudian berbalik mencela musik dangdut ketika di depan teman2 punknya. kocak...
banyak orang yg ngaku tidak suka dangdut hanya untuk sebuah penerimaan kelompok.

saya sendiri nggak maniak dangdut, bukan preferensi musik saya lah. tapi kalo disuguhi dangdut juga g nolak:)