19 August 2008

gelang

Di hadapan sebuah toko kecil itu tampak Ia kebingungan. Termangu Ia dalam tegaknya. Masih berpikir, haruskah Ia melangkah masuk kedalam, memilih dan memberikan pesan itu untuknya. Ataukah kembali melanjutkan langkahnya. pulang dan kembali melupakannya untuk sejenak, seperti biasanya. Semakin lama ia berdiam di depan toko itu, semakin tampak Ia kebingungan. Bingung. Harus memilih apa dan kapan mesti Ia berikan kepadanya. Jika bukan Ia sendiri yang memberikan mesti lewat siapa harus dititipkan pesan ini.
Sudah lama, bahkan teramat sangat lama, Ia menimbang-nimbang ide ini di kepalanya. Di bolak-balik rencana ini bersama dengan pertanyaan : masih pantaskah? Terlalu anehkah? Norakkah? Dalam rangka apakah? Terus Apa yang nanti akan Ia pikirkan tentang kau?

Pada akhirnya melangkah juga Ia kedalam. Saat masuk dan menyusuri etalase, suara dalam benaknya masih saja datang berkoar “Yang ini norak, yang itu juga”. “Semua yang kau pilih akan tampak norak dihadapannya”. “Ingat, bagaimanapun juga kau harus peduli apa yang Ia pikirkan tentang mu, jadi sudahlah... Jangan kau lanjutkan!”. “Kau terlalu banyak berharap padanya”. “Kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri dihadapannya”.

Ia masih susuri deretan etalase dalam toko itu. Ia melangkah, mendekat, dan memilih apa yang dari sejak dulu Ia rencanakan. Dalam sudut lain dadanya terdengar halus juga suara-suara yang berkelebat: “Ah, apa sih yang norak dari hanya sekedar ngasih perhiasan ke seseorang yang kamu sayangi ?”.
“Emang sampai kapan kau akan tetap tinggal di sini? Jika bukan kau yang pergi sekarang, pasti Ia yang akan pergi. Dan sebelum semuanya pergi, tolong pastikan Ia tak lagi membencimu”. “Sampai kapan kau akan terus berharap pertemuan-pertemuan yang tak terencanakan dengannya”. “Bagaimanapun juga, Ia harus tahu apa yang kau pikirkan tentangnya”.

Akhirnya dipilihnya juga sebuah gelang perak dari deretan paling atas di sebuah etalase yang bening. Sebuah gelang dengan liontin berbentuk hati munggil.
Gelang ini adalah hadiah untuk sekian waktu yang tanpa sempat bersua ia dengannya, apalagi berucap. Untuk hadiah ulang tahun di awal September nanti. Gelang ini untuk cinta yang sederhana. Sederhana dan tak sempurna. Indah dalam pasrahnya untuk tak mencoba jadi sempurna.

Gelang ini untuk seseorang yang dulu pernah ia kenal dalam jenak kehidupannya. Walaupun tak pernah benar-benar ia mengenalnya.

***

Jikalau nanti suatu saat kau lingkarkan untaian ini di pergelangan tangan-mu dan memang terlihat norak, ya ... ini memang sekedar ungkapan rasa yang norak, yang nggak sempurna. Apa adanya.

3 comments:

mAULIYAh said...

aduh... ra mudeng karo basa sastra beginian...
kuwi gelang maksude apa?

bambangtris said...

aduhhhh.........
gubrak !!!

jeduk...jeduk..jeduk
*suara kepalaku diadu sm dinding*


cerita'e kan iku mau nulis sing romantik2 ngono...mbak.
tapi gara2 ga iso sepuitik Ahmad Tohari atau anis matta yah... tulisan macam begitu itu sing jadi.
_______________________________
ga mudeng y??
koyok e sing baca ga punya sense of roman nih

::buruk gaya penulisan pembaca dibelah::

hehe

mAULIYAh said...

yang bener, kalo punya muka jelek tu jangan cermin yang dipecahin hehe...

barangkali harus dibaca lagi biar mudheng.