Kalervo Oberg, ekonom Kanada yang kemudian hari jadi anthropolog, suatu kali bikin istilah 'culture shock', atau 'gegar budaya'. Istilah tersebut ia gunakan untuk membahasakan kekagetan dan kekikukan seseorang dari satu budaya kemudian bersua atau hijrah ke tempat dengan budaya berbeda.
Gegar budaya. Culture shock. Itulah kata yang mewakili keadaan saya beberapa waktu belakang ini. keadaan yang menggambarkan keadaan saya yang tergagap-gagap dalam menjalani hidup sesehari di Jakarta.
Untungnya, tak hanya saya yang pernah mengalami gegar budaya seperti ini. Jutaan orang yang tinggal di Jakarta tapi berasal dari ruang budaya lain pun mungkin pernah mengalami hal yang saya alami. Maklum saja, menurut saya, Jakarta memang menyimpan auranya sendiri. Menawarkan kemewahannya sendiri. Kesemrawutannya sendiri. Tantangannya sendiri. Dan, tentu saja, menampilkan kekumuhannya yang khas juga.
Sebab itu, orang dari berbagai sudut negeri ini, akan dengan mudah tergagap-gagap begitu pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta.
Karena itu, saya sering mendapatkan diri ini terngugun sendirian di hadapan kesemrawutan Jakarta. Tercenung di kemewahan Jakarta. Terheran-heran dengan logika yang digunakan dalam interaksi dengan yang liyan. Logika dingin yang terkadang tak kenal pertimbangan familial. Hubungan antar sesama yang terasa asing. Dengan mudah bertemu orang dari berbagai tempat di negeri ini untuk kemudian hilang entah ke mana.
Satu gegar budaya yang menarik yang saya alami adalah tersesat di belantara Jakarta. Untuk dua minggu atau tiga minggu pertama saya di Jakarta, hampir setiap hari saya kesasar, tersesat. Muter-muter di sepanjang jalan Sudirman-Thamrin. Maksud hati ke Kebayoran Lama, tiba-tiba saya temukan diri ini sudah di jalan menuju Tangerang. Mau pulang ke Depok, eh, sudah mau ke Banten. Mau ke Liga Mas Pancoran.. tiba-tiba sudah ada ada di semrawut Pasar Minggu. Fiuh.. dan lain-lain dan lain-lain. Padahal saya sudah sedia dengan peta Jakarta yang saya persiapkan jauh-jauh hari. Peta tetap saja peta. Tidak mengaggambarkan suasana bumi yang sebenaranya.
Gegar budaya yang menarik lainnya adalah ketika memasuki Sudirman Central Business District (SCBD). Di sana, saya bukan saja merasa menjadi alien. Tapi saya merasa datang ke tempat yang asing sama sekali. Bukan hanya dengan teknologi yang ada di sana. Tapi juga manusia yang berulang-aling, keluar masuk gedung pencakar langit, Bertemu manusia dengan pakaian yang hampir sama..
Pekerjaan saya memang memungkinkan saya untuk menghadiri undangan-undangan dari kantor yang berada diperumahan yang biasa-biasa sampai diskusi di hotel berbintang-bintang. (Untunglah pekerjaan saya tak menuntut saya untuk bangun pagi-pagi. Tidak menuntut pakaian yang resmi. Celana jeans dan kaos oblong pun jadi ).
Yang menarik, dari pengalaman keterasingan serta kegagapan budaya macam di atas tadi adalah kesadaran bahwa lama-kelamaan makin mirip siputlah saya ini: ternyata rumah saya menempel di punggung sendiri dan terus menerus dibawa kemana-mana.
Apalagi kalau bukan disebut siput namanya. Ketika saya datang ke suatu tempat namun tak bisa untuk berbagi sepenuh asumsi akan hidup dan kehidupan dengan sebagian masyarakatnya. Masih pantaskah tempat tadi disebut tempat tinggal? Jika masih terasa terasing dengan dera putar kota beserta nilai, rasa, norma dan pemikiran di dalamnya.
Ah, mungkin pada tingkat tertentu kita adalah siput-siput yang membangun rumah di punggungnya sendiri. Rumah yang dindingnya adalah asumsi akan makna. Asumsi sendiri terhadap manusia dan komunitas. Asumsi yang terus menerus kita bolak-balik dan putar-sesuaikan dengan budaya asal-asul.
Merayakan ide, makna, rasa dalam bahasa. Sebelum terperangkap dalam ketidaktahuan dan ketidakmampuan mengungkap.
16 August 2010
12 August 2010
Interview With Keong Racun
Wawancara dengan pejabat dinegeri ini sungguh merepotkan. Sebab yang dibicarakan adalah ideologi politik yang seakan-akan maha penting. Padahal, omongan mereka sungguh tidak menggerakkan negeri ini ke tempat yang lebih baik sedikitpun. Bagaimana mau lebih baik jika kata-kata yang keluar dari mulutnya sampah semua. Kebohongan melulu.
Jadi, bisakah wartawan menjadi jujur padahal sumber beritanya jelas-jelas ngibul?
Tentu susah. Maka dituliskanlah kebohongan tadi dengan dipotong sana-sini. Dimodif bahasanya yang carut marut. Diperbaiki lalu dipoles hingga terbaca sebagai sesuatu yang penting. Karena sungguh, jika tidak diperbaiki di sana-sini, pasti dengan mudah pembaca mengenali tulisan omongan tersebut sebagai sampah.
Setelah laik baca, maka kebohongan dicetak dan simsalabim sampailah kebohongan tadi di meja anda. Lalu Anda membacanya dengan semangat seakan membaca sesuatu yang penting. (siapa yang menyedihkan sebenarnya? hehe)
Ah, Sungguh melelahkan.. membosankan wawancara seperti itu.
Untunglah saya mempunyai hari libur. Hari yang bisa digunakan untuk otak saya berpikir tentang kejujuran. Berjalan-berkeliling untuk bertemu dengan senja yang tak pernah mungkin berbohong.
Sampai suatu hari, dihari libur, tak sengaja saya bertemu dengan Keong Racun. Anda pasti sudah kenalhewan ini. Hewan yang namanya mendadak terkenal seantaro jagad karena jadi judul sebuh lagu.
Setelah meminta izin untuk wawancara, tanpa basa-basi saya berondong si Keong Racun dengan pertanyaan-pertanyaan.Saya senang wawancara dengan si Keong Racun, karena saya tahu jawabannya bukan sampah.Si Keong Racun tak punya otak. Tak mungkin ia berbohong.
Berikut kutipan wawancaradengan Keong Racun:
"Bung Keong Racun, bagaimana kabarnya sekarang?"
"Iya.. baik-baik saja. Meski gak sebaik dulu."
"Lho..memang keadaannya sekarang seperti apa?"
"Sekarang sungguh repot. Menjadi terkenal sungguh gak nyaman."
"Maksudnya?"
"Sekarang hidup tidak tenang. Karena banyak yang nyari. Denger-denger katanya mau untuk dijadiin menu makanan baru di restoran Cina dan Jepang. Belum lagi yang nyari-nyari karena mau balas dendam."
"Dijadiin makanan?"
"Iya. Kami sekarang diburu di mana-mana. Yang di laut, lautnya dikeringin. Yang sembunyi di sungai, sungainya dikuras. Yang hidup di hutan. Hutannya digunduli. Sekarang populasi kami tinggal beberapa ratus ribu lagi."
"Kalau yang mau balas dendam karena apa?"
"Iya.. Manusia-manusia yang ada di lirik lagu keong racun itu, denger-denger mereka terhina dan tak terima karena disamain dengan kaum keong racun. Padahal yang sungguh terhina itu saya, kaum keong racun. Masa disamain sama manusia bejat. Masa dijadikan istilah lelaki gituan."
"Apakah Bung Keong Racun kecewa?"
"Kecewa sih iya. Ko ya..bisa disamain sama gituan. Kalau yang baik-baik saya pasti senang. Saya kok heran. Manusia itu kok bisa-bisanya nyari kambing hitam."
"Lalu kalau merasa jadikambing hitam, apa tindakan Bung KeongRacun?"
"Yaa.. gimana lagi. Mau demo kan gak gak mungkin. Mau lapor ke Komnas HAM juga gak mungkin. Mau nuntut karena pencemaran nama baik, pasti diketawain. Yah.. sudah. Kami nerimo ae. Terima saja. Pasrah. barangkali saja ini sudah kehendaknya gusti. Padahal meski kami gak berotak kami kan masih sama-sama ciptaanTuhan."
"Anda kok baik Bung Keong Racun?"
"Yaaa.. mungkin karena cita-cita saya dulu pengen jadi wartawan."
Jadi, bisakah wartawan menjadi jujur padahal sumber beritanya jelas-jelas ngibul?
Tentu susah. Maka dituliskanlah kebohongan tadi dengan dipotong sana-sini. Dimodif bahasanya yang carut marut. Diperbaiki lalu dipoles hingga terbaca sebagai sesuatu yang penting. Karena sungguh, jika tidak diperbaiki di sana-sini, pasti dengan mudah pembaca mengenali tulisan omongan tersebut sebagai sampah.
Setelah laik baca, maka kebohongan dicetak dan simsalabim sampailah kebohongan tadi di meja anda. Lalu Anda membacanya dengan semangat seakan membaca sesuatu yang penting. (siapa yang menyedihkan sebenarnya? hehe)
Ah, Sungguh melelahkan.. membosankan wawancara seperti itu.
Untunglah saya mempunyai hari libur. Hari yang bisa digunakan untuk otak saya berpikir tentang kejujuran. Berjalan-berkeliling untuk bertemu dengan senja yang tak pernah mungkin berbohong.
Sampai suatu hari, dihari libur, tak sengaja saya bertemu dengan Keong Racun. Anda pasti sudah kenalhewan ini. Hewan yang namanya mendadak terkenal seantaro jagad karena jadi judul sebuh lagu.
Setelah meminta izin untuk wawancara, tanpa basa-basi saya berondong si Keong Racun dengan pertanyaan-pertanyaan.Saya senang wawancara dengan si Keong Racun, karena saya tahu jawabannya bukan sampah.Si Keong Racun tak punya otak. Tak mungkin ia berbohong.
Berikut kutipan wawancaradengan Keong Racun:
"Bung Keong Racun, bagaimana kabarnya sekarang?"
"Iya.. baik-baik saja. Meski gak sebaik dulu."
"Lho..memang keadaannya sekarang seperti apa?"
"Sekarang sungguh repot. Menjadi terkenal sungguh gak nyaman."
"Maksudnya?"
"Sekarang hidup tidak tenang. Karena banyak yang nyari. Denger-denger katanya mau untuk dijadiin menu makanan baru di restoran Cina dan Jepang. Belum lagi yang nyari-nyari karena mau balas dendam."
"Dijadiin makanan?"
"Iya. Kami sekarang diburu di mana-mana. Yang di laut, lautnya dikeringin. Yang sembunyi di sungai, sungainya dikuras. Yang hidup di hutan. Hutannya digunduli. Sekarang populasi kami tinggal beberapa ratus ribu lagi."
"Kalau yang mau balas dendam karena apa?"
"Iya.. Manusia-manusia yang ada di lirik lagu keong racun itu, denger-denger mereka terhina dan tak terima karena disamain dengan kaum keong racun. Padahal yang sungguh terhina itu saya, kaum keong racun. Masa disamain sama manusia bejat. Masa dijadikan istilah lelaki gituan."
"Apakah Bung Keong Racun kecewa?"
"Kecewa sih iya. Ko ya..bisa disamain sama gituan. Kalau yang baik-baik saya pasti senang. Saya kok heran. Manusia itu kok bisa-bisanya nyari kambing hitam."
"Lalu kalau merasa jadikambing hitam, apa tindakan Bung KeongRacun?"
"Yaa.. gimana lagi. Mau demo kan gak gak mungkin. Mau lapor ke Komnas HAM juga gak mungkin. Mau nuntut karena pencemaran nama baik, pasti diketawain. Yah.. sudah. Kami nerimo ae. Terima saja. Pasrah. barangkali saja ini sudah kehendaknya gusti. Padahal meski kami gak berotak kami kan masih sama-sama ciptaanTuhan."
"Anda kok baik Bung Keong Racun?"
"Yaaa.. mungkin karena cita-cita saya dulu pengen jadi wartawan."
14 July 2010
Don't Judge The Book From It's Price (hehe)
Punya teman aktivis kadang memang membosankan. Bukan karena ia pelit atau sombong. Namun mereka ini saya sebut termasuk kaum yang rada-rada susah banget kalau diajak jalan-jalan apalagi janjian buat senang-senang. Saya ingat betul betapa susahnya jika mau ngajak teman aktivis ke toko buku, pasar minggu, futsalan, kemping, atau nonton.
Ketika tawaran diajukan spontan teman-teman saya ini mikir atau melirik agenda.
“Entar yah liat dulu agenda.”
“Besok bisa sih. Tapi cuma bisa datang sebentar. Soalnya jam 9 sampai jam 12 ada acara.”
Saya maklum, jadwal kuliah yang padat ditambah bejibun masalah organisasi tampaknya tak bisa membiarkan sedikitpun waktu terluang untuk mikirin orang lain apalagi hepi-hepi.
Makanya sedari itu saya selalu bersiap sedia jika ada orang mengajak jalan –kemanapun itu- walaupun mendadak. Buat saya spontanitas adalah sisi humanisme manusia yang harus dipertahankan. Karena kita bukan robot yang selalu tertataagendakan dengan program.
Namun pandangan miringku tentang betapa membosankannya aktivis kini berubah. Satu siang di panasnya Jakarta telepon genggamku bergetar lirih. Pesan singkat dari sahabatku di Malang rupanya. “Bang, ada buku keren bgt di gramed...”, katanya. Saya balas. Tak lama berselang handpon saya berkedip kembali. “Jakarta-Paris via French Kiss Syahmedi Dean. Ttg wartawan n fashion editor. Di lelang Cuma 10 rb,” lalu katanya, akan dibelikannya satu buku itu buatku. Ah, jarak 800 kilometer tampaknya bukan apa-apa lagi. Berita hangat, sapa akrab, salam kangen, toh masih bisa dipertukarkan.
Namun yang bikin terngungun adalah karena teman saya ini ingat apa yang saya suka. Tentang buku, wartawan, dan dibelikannya satu buku itu. Saya berterima kasih benar karena dia sudah mengingatku, mengingat apa yang ku suka, dan mau direpoti tentang remeh temeh pengiriman.
“U r welcome,” katanya lewat sms.
Ah, kita memang selalu punya cara-cara tersendiri untuk mengekspresikan kedekatan dan persahabatan kepada orang-orang di sekeliling. Seperti temanku satu ini, yang mau menyempatkan diri melakukan sesuatu yang sederhana buat seseorang lain di kesibukannya yang padat. Sekedar bilang ‘hai’, sekedar menawarkan “ada buku bagus di gramed nih, cocok banget buat lu. Mo dibeliin?’.
Aih..
Hal sederhana apapun itu memang tak pernah gagal jika dilakukan sepenuh hati.
_______
untuk Erik Marangga.
Ketika tawaran diajukan spontan teman-teman saya ini mikir atau melirik agenda.
“Entar yah liat dulu agenda.”
“Besok bisa sih. Tapi cuma bisa datang sebentar. Soalnya jam 9 sampai jam 12 ada acara.”
Saya maklum, jadwal kuliah yang padat ditambah bejibun masalah organisasi tampaknya tak bisa membiarkan sedikitpun waktu terluang untuk mikirin orang lain apalagi hepi-hepi.
Makanya sedari itu saya selalu bersiap sedia jika ada orang mengajak jalan –kemanapun itu- walaupun mendadak. Buat saya spontanitas adalah sisi humanisme manusia yang harus dipertahankan. Karena kita bukan robot yang selalu tertataagendakan dengan program.
Namun pandangan miringku tentang betapa membosankannya aktivis kini berubah. Satu siang di panasnya Jakarta telepon genggamku bergetar lirih. Pesan singkat dari sahabatku di Malang rupanya. “Bang, ada buku keren bgt di gramed...”, katanya. Saya balas. Tak lama berselang handpon saya berkedip kembali. “Jakarta-Paris via French Kiss Syahmedi Dean. Ttg wartawan n fashion editor. Di lelang Cuma 10 rb,” lalu katanya, akan dibelikannya satu buku itu buatku. Ah, jarak 800 kilometer tampaknya bukan apa-apa lagi. Berita hangat, sapa akrab, salam kangen, toh masih bisa dipertukarkan.
Namun yang bikin terngungun adalah karena teman saya ini ingat apa yang saya suka. Tentang buku, wartawan, dan dibelikannya satu buku itu. Saya berterima kasih benar karena dia sudah mengingatku, mengingat apa yang ku suka, dan mau direpoti tentang remeh temeh pengiriman.
“U r welcome,” katanya lewat sms.
Ah, kita memang selalu punya cara-cara tersendiri untuk mengekspresikan kedekatan dan persahabatan kepada orang-orang di sekeliling. Seperti temanku satu ini, yang mau menyempatkan diri melakukan sesuatu yang sederhana buat seseorang lain di kesibukannya yang padat. Sekedar bilang ‘hai’, sekedar menawarkan “ada buku bagus di gramed nih, cocok banget buat lu. Mo dibeliin?’.
Aih..
Hal sederhana apapun itu memang tak pernah gagal jika dilakukan sepenuh hati.
_______
untuk Erik Marangga.
Subscribe to:
Posts (Atom)