Showing posts with label Diaolog Imajiner. Show all posts
Showing posts with label Diaolog Imajiner. Show all posts

21 December 2010

Percakapan akhir tahun



Sepatu Kiri:

Tak ada yang bisa dibanggakan dari tuanku sekarang ini.
Apa coba?? Tinggal masih numpang.
Status pekerjaan masih belum jelas
Tentang sekolahnya? Heh? Lupa tampaknya!

Setahun ini, kulihat ia masih belum bisa melewati hari-harinya dengan bijak.
Masih belum bisa menghargai jatuh-bangun usahanya sendiri.
Masih belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hidup- yang ia catat dulu-.

Ah, kutebak sudah lupa ia sama mimpi-mimpinya.
Mimpi yang selalu ia gumamkan saat melepas kita dari kakinya
Menjauh dari Tuhan-nya. Duh..

Payah benar aku mengikuti langkahnya sekarang.
membelah Jakarta. Pagi, siang, malam
Dan mimpinya, kau lihat?
Serangkaian mimpi yang ia ceritakan pada kita dulu.
Kini, berhenti di Jakarta.


Sepatu Kanan:

Benar, kawan ku. Memang itulah faktanya.
Tapi tunggulah barang sebentar.
Kenapa kau tak pernah mensyukuri apa yang didapat majikan-mu. Majikan kita. Kenapa kau selalu bilang baru, baru sampai, dan tidak bilang, sudah sampai.
Kenapa kau selalu sibuk dengan apa yang belum didapatkan.
Bukannya mensyukuri apa yang didapat.

Memang ada banyak mimpi yang tidak kesampaian.
Tapi bukankah semua posisi majkan kita hari ini tak lain dan tak bukan adalah pilihan dan keputusan Allah.
Allah yang telah memutuskan di posisi mana dan apa yang sedang majikan kita kerjakan.
Adakah yang lebih baik dari keputusan Allah?

Sepatu Kiri :

Hemm… entahlah.
Menurutmu?

Sepatu Kanan :
Tentang mimpi yang belum tercapai. Kukira ia hanya belum mejadi bagian takdir dari majikan kita hari ini. Itu saja.
Lagipula, siapa yang lebih tahu apa yang terbaik untuk majikan kita hari ini?

Sepatu Kiri:


Entahlah..
Tuhan mungkin?


Kubiarkan mereka terus bercakap. Aku hanya menguping lewat mimpi dalam tidurku.
Seperti seorang majikan yang menguping para pembantunya. Dalam hati aku hanya berkata.

Sepatuku, kau benar.
Aku belum menjadi apa-apa.
Belum bisa berbuat apa-apa.
Belum bermakna.
Untuk siapa-siapa.
Belum melangkah kemana-mana.
Tapi setidaknya aku masih bisa berkeluh kesah.
Masih bisa menulis sajak picisan.
Tdak cukup bermakna memang.
tapi apakah bermakana itu pula


akupun terbangun.


Jakarta, Desember
Catatan akhir tahun.

16 September 2010

nasihat si buta tentang lafadz Allah yang menggantung di langit




Malam itu, terjadi keajaiban. Ketika malam mulai menyelimutkan gelapnya, tiba-tiba di langit yang biru, gumpalan awan putih, membentuk lafadz Allah.

Hanya satu lafadz. Lafadz yang kadang, demi toleransi hidup bersama, sering berganti nama menjadi ‘tuhan’ atau ‘yang di atas’. Kini lafadz tersebut menggantung tepat di atas bulan sabit langit Sumatera.

Manusia terpana. Ternganga.

Malam berikutnya keajaiban kembali terjadi. Lafadz Allah kembali terukir tepat di tempat sebelumnya.

Manusia terpana. Ternganga. Gempar.

Meteorolog dari berbagai penjuru negeri memeriksa fenomena tersebut. Prakiraan dipaparkan. Perhitungan dirumusakan. Model X, Y, Z dikontruksi. Namun tak ada yang bisa menjelaskan keajaiban tersebut.

Tergesa-gesa diskusi digelar, talk show diadakan, foto dan video didokumentasikan dan di upload ke ranah maya. Di koran-koran menjadi berita utama. D twitter menjadi trending topics. Gempita.

Di masjid, mereka yang telah lama beriman pada seutas rambut dibelah tujuh bersyukur. Bersujud. Allah?

Di jalan-jalan, orang berkerumun takjub menyaksikan keajaiban tersebut. Di tanah lapang mereka berkumpul membagikan Al-Qur’an.

Malam demi malam keajaiban tersebut terjadi. Tiap malam, awan putih seolah mengerti tugas mereka : membentuk lafadz Allah.

Sampai suatu malam seorang buta yang hanya berjalan lewat tuntunan tongkat melewati mereka yang berkerumun. Ia menyeret kakinya dan mengacuhkan segala decak kagum manusia di sekitarnya.

Orang-orang heran. Melihat si buta tak menjadi bagian dari mereka yang terkagum-kagum.

“Hai buta, tidakkah kau rasakan keajaiban ini?” tukas seorang.

“Ada lafadz Allah di langit sana. Tidakkah kau rasakan,” sahut yang lain.

“Berhentilah di sini. Biar kuceritakan padamu bagaimana indahnya lafadz Allah yang terlukis di langit sana,” tambah yang lain di antara kerumunan.

Si buta yang tak pernah terperdaya oleh indah warna-warna dan tak pernah terpukau oleh rupa, menjawab.

“Emang kenapa kalau Allah ada. Terus kenapa kalau Allah hidup dan menciptakan langit bumi dan seisinya”.

“Tapi, sudahkah kita menjalani hidup sehari-hari seolah Allah ada?” tandasnya.

Semua diam.



Selamat I’dul Fitri semuanya.

Mohon maaf lahir dan batin.

::

cerita di atas terinspirasi dari berita tentang lafadz Allah.

Beritanya ada di sini: http://www.jpnn.com/read/2010/09/15/72220/Lafadz-Allah-Muncul-di-Langit

04 September 2010

Wawancara Imajiner dengan Sang Wakil Rakyat


Kemarin, saya terlambat datang pada acara sosialisasi gedung DPR yang baru. Maklum saja, saya bangunnya kesiangan. Sampe DPR baru jam satu siang. Akhirnya gak dapat apa-apa. Untunglah secara gak sengaja saya ketemu dengan wakil rakyat. Gak pikir panjang saya minta waktunya sebentar untuk wawancara mengenai gedung DPR yang baru.

Karena bingung saya gak sempat bikin beritanya. Cuma ada data mentahnya saja. Berikut rekaman wawancaranya:


Saya tuh heran, kenapa kok wartawan dan media itu terlalu membesar-besarkan gedung DPR yang cuma Rp 1.6 triliun ini. Padahal kan, banyak kantor media apalagi kantor BUMN yang lebih bagus dan lebih mahal dari gedung DPR yang masih dalam tahap pembangunan ini.

Lagian kan tingginya cuma 36 lantai. Cobalah anda main-main ke kawasan Sudirman sana. Di sana, malah banyak gedung yang lebih tinggi. Hampir semuanya 30 lantai ke atas. Masa gedung DPR yang namanya wakil rakyat gedungnya kalah tinggi. Padahal sudah jelas-jelas kalau di negeri ini disebutkan bahwa suara rakyat adalah suara tertinggi. Bukannya suara pengusaha atau suara pedagang kayak di kawasan Sudirman sana.

Jadi, menurut saya, langkah membangun gedung yang tinggi itu langkah yang tepat. Sehingga dalam gedung tersebut tercermin bahwa suara rakyat adalah suara tertinggi di negeri ini.

Mangkanya itu, rakyat seharusnya bangga. Karena cuma di negeri ini suara rakyat dijungjung tinggi dan termanifestasikan dalam betuk sebuah gedung.

Lagian kalau masyarakat belum bisa memperlihatkan kesejahteraannya jangan banyak ngoceh. Diam saja. Kita bantu masyarakat untuk memperlihatkan kesejahteraan negeri ini kepada dunia. Caranya tak usah repot-repot. Simpel saja, cukup dengan menunjukkan kesejahteraan wakil-wakil rakyatnya kepada dunia. Salah satunya yah memperbagus tempat bekerja para wakil rakyat.

Kalau wakilnya sejahtera, otomatis kan pandangan dunia menganggap orang-orang yang diwakilinya juga sudah sejahtera.

Makanya itu, untuk memperlihatkan kesejahteraan para wakilnya, saya berharap di Gedung DPR yang baru itu nanti ada kolam renang, tempat lobi antar fraksi. Tempat rekreasi, ada karaoke. Tempat spa. Ruang kerjanya diperluas.

Dikira enak apa kerja di DPR. Duduk lama-lama tanpa ngomong, kayak kambing congek. Gaji gak seberapa. Capek tau!
Lagian kan dari pada uangnya habis buat spa dan renang di hotel mendingan uangnya dikelola sama koprasi DPR. Jadi uangnya kembali ke kita-kita juga.

Makanya wartawan dan masyarakat jangan asal ngomong. Jangan asal tuduh. Jangan banyak mengeluh. Bilang kita keterlaluan lah. Kerja gak bener. Korupsilah. Padahal uang Rp 1.6 triliun ini buat bangsa dan negara juga.

Menurut saya, orang-orang yang menolak gedung baru DPR harus dicurigai sebagai anti pembangunan. Bisa jadi menolak ideologi pancasila juga. Berbahaya kalau terus dibiarkan. Kita nanti akan desak polri untuk menindak orang-orang yang anti pembangunan.

Berbahaya jika dibiarkan berkeliaran. Bisa mengancam disintegrasi bangsa.
Ya sudah, gituh ajah dulu yah. Udah lapar nih. Belum makan. Mau makan dulu.

*saya baru nyadar inikan belum waktunya berbuka.



Anda liat baik-baik fotonya. Megah bukan?

12 August 2010

Interview With Keong Racun

Wawancara dengan pejabat dinegeri ini sungguh merepotkan. Sebab yang dibicarakan adalah ideologi politik yang seakan-akan maha penting. Padahal, omongan mereka sungguh tidak menggerakkan negeri ini ke tempat yang lebih baik sedikitpun. Bagaimana mau lebih baik jika kata-kata yang keluar dari mulutnya sampah semua. Kebohongan melulu.

Jadi, bisakah wartawan menjadi jujur padahal sumber beritanya jelas-jelas ngibul?

Tentu susah. Maka dituliskanlah kebohongan tadi dengan dipotong sana-sini. Dimodif bahasanya yang carut marut. Diperbaiki lalu dipoles hingga terbaca sebagai sesuatu yang penting. Karena sungguh, jika tidak diperbaiki di sana-sini, pasti dengan mudah pembaca mengenali tulisan omongan tersebut sebagai sampah.

Setelah laik baca, maka kebohongan dicetak dan simsalabim sampailah kebohongan tadi di meja anda. Lalu Anda membacanya dengan semangat seakan membaca sesuatu yang penting. (siapa yang menyedihkan sebenarnya? hehe)

Ah, Sungguh melelahkan.. membosankan wawancara seperti itu.

Untunglah saya mempunyai hari libur. Hari yang bisa digunakan untuk otak saya berpikir tentang kejujuran. Berjalan-berkeliling untuk bertemu dengan senja yang tak pernah mungkin berbohong.

Sampai suatu hari, dihari libur, tak sengaja saya bertemu dengan Keong Racun. Anda pasti sudah kenalhewan ini. Hewan yang namanya mendadak terkenal seantaro jagad karena jadi judul sebuh lagu.

Setelah meminta izin untuk wawancara, tanpa basa-basi saya berondong si Keong Racun dengan pertanyaan-pertanyaan.Saya senang wawancara dengan si Keong Racun, karena saya tahu jawabannya bukan sampah.Si Keong Racun tak punya otak. Tak mungkin ia berbohong.

Berikut kutipan wawancaradengan Keong Racun:

"Bung Keong Racun, bagaimana kabarnya sekarang?"
"Iya.. baik-baik saja. Meski gak sebaik dulu."
"Lho..memang keadaannya sekarang seperti apa?"
"Sekarang sungguh repot. Menjadi terkenal sungguh gak nyaman."

"Maksudnya?"

"Sekarang hidup tidak tenang. Karena banyak yang nyari. Denger-denger katanya mau untuk dijadiin menu makanan baru di restoran Cina dan Jepang. Belum lagi yang nyari-nyari karena mau balas dendam."


"Dijadiin makanan?"

"Iya. Kami sekarang diburu di mana-mana. Yang di laut, lautnya dikeringin. Yang sembunyi di sungai, sungainya dikuras. Yang hidup di hutan. Hutannya digunduli. Sekarang populasi kami tinggal beberapa ratus ribu lagi."

"Kalau yang mau balas dendam karena apa?"

"Iya.. Manusia-manusia yang ada di lirik lagu keong racun itu, denger-denger mereka terhina dan tak terima karena disamain dengan kaum keong racun. Padahal yang sungguh terhina itu saya, kaum keong racun. Masa disamain sama manusia bejat. Masa dijadikan istilah lelaki gituan."

"Apakah Bung Keong Racun kecewa?"

"Kecewa sih iya. Ko ya..bisa disamain sama gituan. Kalau yang baik-baik saya pasti senang. Saya kok heran. Manusia itu kok bisa-bisanya nyari kambing hitam."

"Lalu kalau merasa jadikambing hitam, apa tindakan Bung KeongRacun?"

"Yaa.. gimana lagi. Mau demo kan gak gak mungkin. Mau lapor ke Komnas HAM juga gak mungkin. Mau nuntut karena pencemaran nama baik, pasti diketawain. Yah.. sudah. Kami nerimo ae. Terima saja. Pasrah. barangkali saja ini sudah kehendaknya gusti. Padahal meski kami gak berotak kami kan masih sama-sama ciptaanTuhan."

"Anda kok baik Bung Keong Racun?"

"Yaaa.. mungkin karena cita-cita saya dulu pengen jadi wartawan."

27 April 2010

Carita si Ibenk bag. 2

Arek Maen Bola Atawa Naon Ieu Teh?

Palatih : omat euy barudak. Minggu hareup mah lamun bisa, ngadu maen bola ka lembur batur teh kudu digaranti sapatuna.

Ibenk : ganti sapatu kumaha maksudna, Pak?
Palatih : lamun bisa mah diganti ku sapatu anu cang na loba.
Ibenk : naha bet kitu, Pak? Lapangna goreng lain, Pak? Laleueur kitu?
Palatih : ih, lain. Supaya lamun nincak ka suku batur teh, karasa leuwih nyeri euy.
Ibenk : oo.., siap atuh, Pak!
Palatih : tah sakitu pesen ti bapa mah. Sok, ayeuna aya nu ditanyakeun jang persiapan minggu hareup teh?
Ibenk : naros, Pak.
Palatih : arek nanya naon maneh?
Ibenk : perlu di asah heula teu cang na, pak? Meh rada seukeut saeutik!?
Palatih : ih.. ulah atuh. Bahaya.
Ibenk : siap lah, lamun kitu mah.
Palatih : sok, aya deui nu ditanyakeun?
Ibenk : eta, Pak. Euu.. Perlu mawa batu teu, Pak?
Palatih : eeuuh... manehmah! Komo deui mawa batu mah. Ulah!! Matak picilakaeun wae kalakuan teh. Tapi, jang jaga-jaga mah mawa paneunggeul we jeung bedog saurang hiji mah.

=========================================
Obat Tetes
Ibenk : euhh..!! Obat nyamuk teh euweuh nu bener nya!?!. Obat nyamuk-obat nyamuk ngagedur hurung. Reungit-reungit ngagugulung.
Abang : aya naon ieu teh.
Ibenk : eta puguh oge. Obat nyamuk jaman ayeunamah garoreng. euweuh nu mempan. Eta coba tempo. Reungit teh kalangkah ngagugulung obat nyamuk.
Abang : ari teu mempan mah, ganti atuh ku obat nu dibalurkeun.
Ibenk : mahal atuh make nu kitu mah. Bari jeung can puguh paeh reungit na oge.
Abang : ari hayang murah bari jeung ampuh mah, ganti atuh ku obat nyamuk tetes. Dijamin eta mah. Reungitna langsung paraeh. Ngan eta we rada tangeul wungkul make na.
Ibenk : obat tetes? Asa karak ngadenge tah. Nya kumaha kitu makena?
Abang : enya rada tangel saeutik. Carana, reungitna cekelan hiji-hiji ku maneh. Kakarak obatna di teteskeun ka reungitna. Tah dijamin! langsung paraeh rengit teh.

===================================================
Halodo Panjang
(Obrolan Tilu Jelema Gede Rahul)

Jalma 1: di lembur kuring mah ayena teh keur hese cai, euy. Walungan ge tepi ka ngoletrak saat caina teh. Kamari mah lauk oge tepi ka ngiuhan dina handapeun tangkal jamu. Saking ku panas na, meureun.

Jalma 2 : sarua atuh euy. Dilembur kuring oge keur halodo pisan ayeuna teh. Sawah ge tepi ka bareulah. Tepi ka belut oge ngalabring marake cetok. Ceunah mah arek ka girang, neangan cai.

Jalma 3 : euuhh! sarua atuh lamun kitu mah. Da di kota oge keur hese cai ayeunamah. Saking ku euweuh cai, meteran PDAM di imah kuring tepi ka dicabut ku petugas PDAM. Geus arek bangkrut meureun tah PDAM teh.

==================================================
Bisi Gareuring

Eutik Kecil (EK) : arek ka mana, Ibenk?
IK : ka dieu yeuh. Arek meuli obat nyamuk ka warung.
EK : manehmah reungit diobatan.
IK : ngahaja puguh oge, Eutik. Bisi gareuring reungitna.

==================================================
Pikasieuneun Guru BP teh.

Ibenk : bade beberesih sareng sanes, Pak?
Guru BP : ah, moal.
Ibenk : eta geuning nyanyandak kored ka sakola teh?
Guru BP : Ieu mah jang rajiaan. Jang nyukuran budak gondrong di sakola.

==================================================

Isukan mah dibanyur ku Emak Geura
Emak : Ujang! Geura hudang atuh! Geus beurang. Dipacokan ku hayam geura tah rejeki teh.
IK : hoammm. Tong jadi ringrang atuh, Mak. Pan urang mah teu boga hayam hiji-hiji acan.

Sababaraha poe Sa eunggeus Emak meuli hayam.

Emak : heyy.. Ujang! Buru geura hudang! Dipacokan ku hayam geura rejeki maneh teh. Tuh tempo kaluar geura. Hayam mah geus kokoreh wayah kieu teh.
IK : hooaayy... nya alus atuh dipacokan ku hayam mah, Mak! Jadi teu kudu meulian lunte. Pan lain mahal lunte ayeuna teh..?

Kaisukannana

Emak : Ujang. Buru hudang, geus jam lima leuwih!
IK : tunduh keneh atuh, Mak.
Emak : sare we maneh mah. nyaho teu sato nu sarena dalapan jam?
IK : naon kitu, Mak?
Emak : Babi, ari hayang nyaho mah. Tah, maneh hayang disebut babi?
IK : ih.. alim atuh, Mak. Nya lamun kitumah, arek ditambahan dua jam deui we sare na.

======================================================
Nyonyoo Taneh

Keur si Ibenk leutik keneh
Abah : ih, Ujang, Menak. Ulah nyonyoo taneuh bageur. Bilih kotor.
IK : da hoyong atuh, Abah.
Abah : ih, ulah atuh. Mendingan oge jajan, yuk!?!
IK : nya hayu atuh.

Keur Si Ibenk geus gede
Abah : Ujang! Hayo geura indit ka sawah. Paculan sawah teh!
Ibenk : alim atuh, Abah!
Abah : euuhh.. maneh mah! kabisa teh ngan mentaan duit we!
Ibenk : ari itu si Abah. Apan baheula ceuk Abah oge ulah nyonyoo taneuh. Bisi kotor. Ari ayeuna bet ngajurung-jurung bari jeung maksa.

=======================================================
Pibiniheun

Ibenk : Abang. Itu tempo geura awewe teh. Nya bodas nya jangkung. Butuh euy urang kanu kitu teh?
Abang : nya keur naon kitu, Ibenk?
Ibenk : keur pibiniheun euy.
Abang : euhh.. maneh mah!!


sakitu heula we atuh...
upami tiasa mah ninggal keun komentar. komo dui lamun ninggal artos mah. he..

20 April 2010

Pengangguran dilarang makan nasi

Suatu hari Ibenk mendapatkan surat dari temannya, Abang, yang berasal dari Amerika. Dalam surat tersebut Abang menceritakan pengalaman hidupnya kenapa ia yang dulu juga miskin bisa menjadi sukses seperti sekarang. Begini sebagian isi suratnya:

“Dulu, ketika saya tidak punya pekerjaan dan tidak punya uang sepeserpun untuk makan, saya pergi ke depan gerbang Gedung putih. Di sana saya makan jerami sambil berteriak pada presiden bahwa saya tidak punya pekerjaan dan tidak punya uang sepeser pun untuk makan. Tak lama kemudian, Presiden keluar dan memberikan uang yang cukup kepada saya dan memberi saya pekerjaan. . “

Setelah membaca surat tersebut Ibenk merasa mendapat inpirasi dari pengalaman si Abang yang dari Amerika tersebut. Ibenk lalu bertekad bahwa besok ia akan mencoba pengalaman si Abang dan akan pergi ke Istana Merdeka sambil membawa jerami.

Besoknya sesampai di depan Istana Merdeka Ibenk lalu mempraktekkan pengalaman temanya. Sambil makan jerami ia berteriak kencang sampai terdengar Presiden yang lagi istirahat.
“Hai.. Tuan Presiden!”
“Saya tak punya pekerjaan dan tak punya uang sepeser pun untuk makan”. Sambil sesekali mengunyah jerami.
“Hai Tuan Presiden, Keluarlah..!!” Ibenk mengulangi.
“Beri saya uang..!!”
“Beri saya pekerjaan..!!”

Tak lama kemudian Presiden keluar dari Istana tanpa pengawal dan berjalan menghampiri Ibenk yang sedang mengunyah jerami. Melihat Presiden keluar Ibenk senang bukan main. Bayangan bahwa ia akan menjadi kaya kini akan jadi kenyataan. Ibenk lalu berhenti berteriak ketika Presiden sudah ada di hadapannya.
Lalu di depan Ibenk presiden berkata.
“Sekarang masih musim hujan. Masih banyak rumput hijau. Simpanlah jeramimu untuk persiapan musim kemarau nanti”

Eng ing engggg…

Ulasan cerita.

Di negara-negara yang menganut paham welfare state memang berlaku semacam prinsip bahwa seseorang yang datang ke pemerintahannya dan mengatakan bahwa dia tidak punya sesuatu pun untuk dimakan, tidak bisa dikirim pulang ke rumahnya dengan tangan hampa. Dalam hal ini departemen sosial akan memberi dia uang pengangguran yang cukup besar untuk biaya hidupnya setiap bulan, sampai departemen tenaga kerja bisa mendapatkan suatu pekerjaan yang cocok bagi dia.

Hal semacam itu mungkin masih sulit di negara kita. Di satu pihak pendapatan negara kita belum setinggi pendapatan negara-negara maju, di phak lain pertumbuhan angkatan kerja kita semakin besar, sementara lapangan kerja masih cukup terbatas.

Pengangguran memang menjadi masalah yang kompleks di tiap negara. Bukan saja karena dapat menyebabkan krisis sosial tapi juga menyebabkan pengaruh terhadap citra negara yang bersangkutan. secara umum pengangguran dapat menimbulkan penyimpangan sosial karena dua hal. Pertama, energi dan kepandaian kerja yang ada tidak tersalurkan secara produktif dan cenderung berkembang menjadi destruktif. Kedua, seorang yang menganggur mengalami krisis identitasnya. Atau krisis yang menyangkut status sosialnya.

Oleh karena itu di negara-negara maju, pengangguran adalah semacam status yang diakui dan dibiayai negara, dan sebab itu krisis identitas itu tidak terlalu terasa. Tetapi dalam situasi di mana pengangguran tidak merupakan suatu status secara hukum dan secara administratif, krisis itu akan lebih terasa.

Gak percaya?
Coba saja.

Postingan ke depan akan berputar masalah pekerjaan dan pengangguran.

07 March 2010

Suporter Senayan

Ibenk : huuu...! huuuuu... huuu...!
Abang : hey, ngapain!? Berisik tau?!
Ibenk : jangan ganggu deh, Bang. Lagi persiapan nih. Huuu... huuuu...!
Abang : persiapan apa? Mau jadi suporter, ya?
Ibenk : bukan, Bang. Persiapan 2014 nanti nih.
Abang : oo.., persiapan piala dunia 2014. mau jadi suporter mana nih?
Ibenk : ih.. Bukan!
Abang : lha, terus ngapain haha huhu.. haha huhu ga jelas kayak suporter gituh.
Ibenk : ini lagi latihan persiapan untuk jadi caleg ke senayan, Bang.
Abang : &^^*&*(()%.

06 March 2010

Ketombean

Ibenk : obat gatal-gatal di kepala apa ya, Bang?
Abang : emang kenapa kepalanya?
Ibenk : ga tau nih, Bang. udah lama gatal banget.
Abang : kutuan paling?
Ibenk : ih.. bukan. Kayaknya sih ketombe.
Abang : ketombean mah gampah atuh. Keramas ajah yang rutin.
Ibenk : masa sih? Tapi ko masih gatel yah, Bang?
Abang : Ibenk rutin ga keramasnya?
Ibenk : bukan rutin lagi Bang. Tiap kali mandi saya keramas.
Abang : yang bener, ah?
Ibenk : serius, Bang.
Abang : ko aneh ya? emang mandinya berapa hari sekali?
Ibenk : lumayan sering sih, Bang. Rata-rata seminggu sekali lah..
Abang : euuhhh!! Borokokok siahh!!

28 February 2010

Patah Hati

Ibenk : Bang, sedih nih. Bingung!
Abang : Cengeng, ah..!. Masa gara-gara cewek ajah pake acara sedih dan bingung.
Ibenk : Tapi ini serius, Bang.
Abang : Emang bingung kenapa? Cewek kamu hamil?
Ibenk : Bukan..
Abang : Cewek kamu minta kawin?
Ibenk : Bukan.
Abang : Diputisin?
Ibenk : Bukan eh, belum, Bang..
Abang : Apa terusan? Kok kayaknya serius banget.
Ibenk : Itu, Bang. Dian Sastro, Bang?
Abang : Oo, ga punya duit buat nonton film terbaru Dian, yah? Ayo, saya traktir nonton kalo gituh.
Ibenk : Bukan! Bukan itu, Bang
Abang : Terus kenapa dengan Dian Sastro!?
Ibenk : Dian Sastro, Bang!! Dian Sastro udah tunangan kemaren, Bang.
Abang : Yang bener, Benk!?
Ibenk : Iyah!
Abang : HuaaaaaaaAA.. huAAAAA..!!!

27 February 2010

Ronda Malam

Abang : Kebetulan Ibenk ke sini. Besok malam kan bagian jaga ronda, Benk. Grup kita masih kurang dua orang nih. Enaknya ngajak siapa yah?
Ibenk : Banyak, Bang. Tinggal pilih ajah. gituh ajah susah.

Abang : Bagaimana kalau ngajak si Duren.
Ibenk : Jangan, Bang. Jangan si Duren! Dia mah ga enak kalau di ajak ngomong. Omonganya tajem. Kedengarannya ajah halus tapi menusuk. Kromo inggil tapi berduri. Jangan dia, Bang. Ngeronda enggak, malah berantem lagi.

Abang : Kalau gitu si Manggis ajah. Dia kan jujur.
Ibenk : Jujur sih jujur, Bang. Tapi orangnya sering gak lihat-lihat situasi kalau ngomong. Dulu, pas saya mau jual HP ke si Keledai 500 ribu, ga jadi gara-gara dia. Masa datang-datang langsung ngomong “HP gini mah di Glodok juga 75 rebuan nih”. Sialan tuh kan, Bang.

Abang : Kalau si Kebo, gimana? Dia kan lumyan kuat tuh.
Ibenk : Ihh.. jangan dia. Dia mah perut karet, Bang. Kerjaannya makan terus. Mulutnya itu ga bisa diem, Bang. Harus diisi makanan terus. Kentongan kalau ga dijagain bisa di makan juga, Bang. Jangan. Jangan dia ah..!! yang lain ajah. Nanti Pos ronda, kalau di lalap sama dia kan berabe, Bang.

Abang : Kalau si Kuda Nil?
Ibenk : Tukang tidur. Percuma negronda bareng sama dia, Bang. Di pos paling cuman tidur.
Abang : Kalau si Macan?
Ibenk : Apalagi dia, Bang. Dia mah tukang berantem. Ga bisa diatur. Keras kepala. Lha kemaren tukang sate lewat, ga mendung ga ujan langsung ditonjok. Cuma gara-gara tuh tukang sate kakinya agak pincang. Disangkain si Macan tuh tukang sate jalannya ngejago gituh.
Abang : Si Semut?
Ibenk : Ha! Semut!? Mendingan jaga ronda sendirian deh, Bang. Daripada ngajak dia. Disuruh pukulin tiang listrik, minta dianter. Disuruh beli rokok, harus bareng. Minta buatin kopi, kudu ada yang nemenin. Mendingan sendiri, Bang.

Abang : Ya udah, Ginih ajah. Kamu cari satu orang. Saya cari satu. Besok malam udah beres, Gimana?
Ibenk : Nah. Gitu ajah, Bang.
Abang : O, iya. Ngomong-ngomong ada keperluan apa nih Ibenk ke sini?
Ibenk : Itu, Bang. Anu.. Saya mau ijin lagi gak bisa ngeronda besok malam.
Abang : Lho, kenapa? Ada lembur?
Ibenk : Bukan, Bang. Itu..anu.. Mau nonton liga Champion. MU sama Milan, Bang.
Abang : Euuuhhh... Borokokok siah..!!

25 February 2010

Neng, ...

-Neng, dimadu mau gak?
-Nggak mau, Bang.
-Kalau diracun, mau?
-Kalau Abang yg racun, neng siap, Bang.

19 January 2010

Ditinggal Kawin

Abang : Dari kemarin ko keliatan murung terus. Kenapa?
Ibenk : Ga ada apa-apa, Bang.
Abang : Kalo ga ada apa-apa ko mukanya sedih gitu. Pasti masalah cewek, ya?
Ibenk : Mm..
Abang : Kenapa emang? Diputusin? Ah, biasa diputusin mah!
Ibenk : Bukan, Bang.
Abang : Terus kenapa? Ditolak?
Ibenk : Nggak juga.
Abang : Bingung mau nembaknya, ya?
Ibenk : Bukan itu juga, Bang.
Abang : Mau kenalan?
Ibenk : Udah kenal lama ko.
Abang : Pasti mau pedekate, ya?
Ibenk : Udah ga mungkin, Bang.
Abang : Lho ko ga mungkin. Emang ceweknya udah punya pacar?
Ibenk : Udah engga sih.
Abang : Ya udah, tunggu apa lagi. Kejar sampai dapet.
Ibenk : Itu masalahnya, Bang.
Abang : lho, Bukannya cewek ga punya pacar itu lebih gampang dapetinnya.
Ibenk : Emang cowoknya udah ga jadi pacarnya, Bang. Tapi besok Minggu bakalan jadi suaminya.
Abang : Oo.., ya udah. kalo gituh lanjutkan ajah lagi sedihnya.
Ibenk :HUAAAAA... HUAAA..HUAAA ...!!!

12 January 2010

Yakin Selebritis itu bodoh

Ibenk : Ternyata selebritis itu bodoh-bodoh yah, Bang?
Abang : Loh..ko bisa!? Dapat kesimpulan dari mana?
Ibenk : Masa sama anak kelas lima SD saja kalah pinter.
Abang : Itu kan cuma permainan Benk, just quist. Belum tentu kalau bodoh.
Ibenk : Tapi Bang, yang saya baca selebritis itu emang waktu kecilnya emang gak pintar-pintar amat.
Abang : Terus emangnya kenapa kalau gak pinter?
Ibenk : Aneh ajah Bang?
Abang : Gak usah aneh. Karena gak pinter itu mereka jadi selebritis.
Ibenk : masih Aneh, Bang?
Abang : Aneh apa lagi?
Ibenk : Kenapa yang pinter ga jadi selebritis ya. Ibenk jadi nyesel , Bang?
Abang : nyesel kenapa?
Ibenk : Nyesel kenapa Ibenk ga bisa jadi selebritis
Abang : Nyesel karena dulu Ibenk di SD Pinter banget ya?
Ibenk : yah... enggak juga, Bang. Justru karena tiga tahun Ibenk tinggal kelas...
Abang :..

09 January 2010

Akibat Nonton Bola

Ibenk : Akhir-akhir ini Abang kok bicaranya lebay dan sering gak nyambung sih?
Abang : Ah, seperti biasa-biasa saja Benk. Tak ada perbedaan dari pekan sebelumnya.
Ibenk : Tuh kan lebay! Kenapa sih Bang?
Abang : Gak kenapa-kenapa. Abang rasa tak ada perubahan yang signifikan kok.
Ibenk : iiihh... Kebanyakan nonton infotainment yah?
Abang : Ah, meleset jauh tampaknya tebakan Ibenk.
Ibenk : kalau gituh sering nonton reality show yah?
Abang : Lagi-lagi spekulasi yang tidak tepat sasaran dari Ibenk.
Ibenk : tuh kan..! udah lebay salah pake kata lagi. Udah ah. Ibenk nyerah dah Bang.
Abang : baru beberapa menit sudah menyerah tampaknya si Ibenk. Padahal dalam beberapa hari ini Abang cuma sering nonton ISL sajah Benk..

Ibenk : Oo.., pantesan!

07 January 2010

Fans itu ternyata..

Ibenk : Ibenk liat di facebook, Abang ko gak jadi Fans satu pun. Kenapa Bang?
Abang : Ah, gak kenapa-kenapa Benk.
Ibenk : Masa sih, Bang?
Abang : Iyah.
Ibenk : Ah... yang beneeerrr ...?
Abang : mmhh...Sebenarnya sih Abang takut, Benk.
Ibenk : Takut apa Bang?
Abang : Takut pusing sama takut sakit.
Ibenk : Lho..kok takut pusing? Takut pusing karena cuma dijadiin tumbal politik? Takut sakit karena bentrok sam fans yang lain?

Abang : Bukan..
Ibenk : Terus kenapa Bang?
Abang : Takut sakit karena berputar-putarnya itu Benk. Jadi kipas angin kan harus siap berputar-putar terus.
Ibenk : Gubrakk...!! Pantesan ajah si Abang dari dulu TOEFL nya cuma dua ratus.

05 January 2010

Ganti Orientasi

Abang : Udah lama nih gak ngeliat Ibenk bonceng cewek lagi.
Ibenk : yah..enggak lah Bang. Kan udah ga ngojek lagi.
Abang : Oo, kemarin itu ngojek. Kirain udah punya calon istri sekarang?
Ibenk : Gak ada Bang.
Abang : Kalau pacar ada?
Ibenk : Sama Bang. Gak punya.
Abang : Kalau calon pacar.
Ibenk : Gak ada juga.
Abang : Kalau cewek yang ditasksir, ada?
Ibenk : Ada sih Bang. Tapi..
Abang : uhh.. Syukurlah kalau gituh.
Ibenk : Emang kenapa Bang.. si Abang mau nyariin ya?
Abang : Enggak. jaga-jaga ajah. Takutnya Ibenk udah ganti orientasi.
Ibenk : Ihh..pliss... deh bo.

04 January 2010

Makam GUS DUR

Ibenk : Lihat berita tentang makamnya Gus Dur, Bang?
Abang : Iya lihat.
Ibenk : Hebat yah, Bang. Pengunjungnya banyak. Ga berhenti-berhenti.
Abang : Ah, biasa.
Ibenk : Lho... ko biasa, Bang. Ini kan Seperti makamnya Bung Karno. Pengunjungnya dari mana-mana. Kebanyakan yang se-perjuangan sama Gus Dur yang datang.

Abang : Iyah tau. Makanya biasa aja.
Ibenk : Emang biasanya kenapa Bang?
Abang : Kalau Ibenk mati pengunjungnya pasti lebih banyak dan pasti dari mana-mana juga.
Ibenk : Masa sih, Bang. Emang siapa juga yang mau ngunjungin makam Ibenk?
Abang : Banyak Benk. Yah teman-teman seperjuangan Ibenk.
Ibenk : Siapa Bang? temennya ajah itungan jari.
Abang : Pengangguran dan jomblo di Indonesia kan banyak Benk.. Hahaha..
Ibenk :...*&*99#!@%*.

03 January 2010

PEKERJAAN YANG COCOK

Abang : Lho.. jam sepuluh kok belum bangun. Gak berangkat kerja?
Ibenk : Enggak Bang. Kan udah resign.
Abang : Kok berhenti! belum satu bulan kerjanya, udah berhenti. Kenapa?
Ibenk : Capek Bang kerjanya.
Abang : Kalau kerja itu semuanya begitu Benk. Gak ada yang gak capek.
Ibenk : Tapi kemaren itu penuh tekanan Bang.
Abang : Yah emang gituh di mana-mana juga. Biar kerjanya teratur!
Ibenk : Bukan itu ajah Bang. Sejak kerja di sana Ibenk jadi takut Bang?
Abang : Takut apa?
Ibenk : Tiap hari dari sebelum tidur Ibenk udah takut terlambat masuk kerja Bang.
Abang : Yah..bagus dong. Berarti Ibenk jadi rajin bangun pagi.
Ibenk : Justru itu masalahnya Bang.
Abang : Apa lagi?.
Ibenk : Ibenk ngerasa gak bebas lagi. Ga bisa bangun siang lagi.
Abang : Oo.. kalau gitu Ibenk gak cocok memang kerja di sana.
Ibenk : Cocoknya kerja apa yah Bang?
Abang : Cocoknya jadi seniman Ibenk nih. Jadi pelukis atau penyair.
Ibenk : Tapi Ibenk gak bisa ngelukis, Bang. Apalagi bikin puisi. Ada lagi gak Bang pekerjaan yang cocok?
Abang : oh ada.. Yah jadi kayak Ibenk sekarang ini.. .
Ibenk : Maksudnya Bang?
Abang : Jadi pengangguran maksudnya...
Ibenk : emhhh....

29 December 2009

COIN NOT FOR PRITA

Abang : Kebtulan datang... Minta tolong kerikin saya, Benk.
Ibenk : Masuk angin ya?
Abang : Iya nih.. abis begadang semalem.
Ibenk : Ada koin nya gak?
Abang : Gak punya. Biasanya kan Ibenk punya banyak.
Ibenk : Sekarang ga ada Bang.
Abang : Bukannya uang Ibenk recehan semua biasanya.
Ibenk : Udah habis sekarang.
Abang : lho.. ko bisa? Disumbangkan semuanya buat Prita ya?
Ibenk : ah, Enggak.
Abang : Terus?
Ibenk : Buat beli pulsa sama beras Bang.
Abang : wahh.... Buat beli beras sama beli pulsa paling?
Ibenk : Enggak Bang, buat beli pulsa, baru beli beras.
Abang : Punya pulsa, tapi Abang sms tadi ga dibales.
Ibenk : Pulsanya pulsa internetan Bang. ga bisa buat sms.
Abang : Buat apa terusan?
Ibenk : Buat facebookan ajah Bang. Biar kere yang penting kan bisa update status di mana ajah, Bang.

Abang : Baguuss...
Ibenk : Gimana Bang? pake tutup balsam ajah ya di keriknya?
Abang : Udah ga usah ah..
Ibenk : Loh...kenapa Bang?
Abang : Ngedadak jadi mules nih...

24 December 2009

Berlibur Ke Bali

Ibenk : Bang, udah pernah ke luar pulau Jawa?
Abang : Mmhhh... udah. Dua kali.
Ibenk : Kemana ajah tuh?
Abang : Ke Pulau Sempu sama ke Pulau Gili di Probolinggo.
Ibenk : yah... Kirain! Berarti belum pernah ke Bali dong? Ke Lombok? Ke Makassar?
Abang : Belum. Emang kenapa?
Ibenk : Ke Bali yuk besok.
Abang : Mau ngapain. Males ah!
Ibenk : Ya berlibur lah bang. Sekarang kan musim liburan.
Abang : Ngapain ah!. Di sini juga tiap hari liburan terus ko. Kan emang lagi gak kerja.

Ibenk :.Aayolah Bang sekali-sekali nikmati hidup. Traveling gituh. Jangan cuma main dan tidur terus! Mumpung ongkosnya murah Bang.

Abang : Emang berapa ongkosnya ke sana?
Ibenk : Nah gitu dong! Semangat! Murah ko ongkosnya Bang. Asal bisa ngejar pesawat jam enam pagi dari Juanda ke Denpasar pasti gratis Bang! makanya besok kita berangkat sebelum subuh dari sini.

Abang : Kenapa gak ngejar bis malam saja dari Malang ke Denpasar. Biar lebih murah. lha wong sama-sama ngejar ko.
Ibenk : Hehe.. Udah pintar sekarang si Abang.ga ketipu lagi..
Abang : Jadi besok gimana ke Bali nya. Jadi nggak?
Ibenk : Yah.. pake nanya segala. Mau ke Bali naik apa Bang. Buat makan besok lusa ajah ga tau bisa makan apa nggak.

Abang : Nah itu... Justru itu. Makanya kita ke Bali ajah besok. Kali ajah di Bali ada orang yang ngasih makan..
Ibenk : ....%^**$$(*&% .... emhh.. kirain udah pinter si Abang.