Apa yang terjadi ketika sebuah tata yang dianggap tak adil, begitu dikecam dan dikutuk, tapi juga tak bisa dirobohkan?
Tanggal 29 Desember 2008 - dua hari setelah Israel melakukan agresi militernya- PBB yang bermarkas di New York menyerukan agar israel segera menghentikan segala agresi militernya yang mengakibatkan jatuhnya korban tak berdosa. Tapi New York, juga seperti kota-kota lainnya diseluruh penjuru dunia, di mana kecaman lahir, terasa begitu jauh dari Palestina dan Israel. Suara kecaman terdengar begitu sayup-sayup.
***
Sejarah tampaknya tak pernah mengenal senjakala bagi penjajahan. Hari-hari ini kita saksikan hal itu datang dari negeri para nabi. Tentang bom yang meledak, tentang besi dan darah yang bercampur. Tentang mayat yang terkapar.. tentang rumah yang hancur, tentang anak-anak yang terluka. Tentang air mata yang membanjir... Tentang manusia, nyawa dan jiwa, yang dipandang tak lebih tinggi dari satu ideologi.
Atas nama tanah suci dan hak eksklusif orang yahudi atasnya, Israel seperti punya kebebasan yang tak terbatas untuk menteror penduduk Palestina: menyerang, menembak, melukai, dan bahkan membunuh.
Yang sungguh-sungguh telah mati adalah empati pribadi, suara dalam hati yang menandaskan bahwa manusia lain adalah satuan yang serupa dengan diri sendiri dan karena nya berhak untuk diperlakukan serupa dengan bagaimana diri ini ingin diperlakukan. Suara hati telah dibungkam dan dikubur rapat-rapat dalam satu kotak di sudut hati demi satu tujuan, ideologi, keyakinan yang ‘lebih tinggi’.
Maka tak cukup batas yang keras: tak cukup tembok setinggi 10 meter sepanjang 650 kilometer dengan kawat berduri, radar, kamera dan parit untuk menutup Palestina.
***
Apa yang terjadi ketika sebuah tata yang dianggap tak adil, begitu dikecam dan dikutuk, tapi juga tak bisa dirobohkan?
Mungkin pada akhirnya suara kecaman akan berubah menjadi seperti kata-kata penyair: berharap mengubah dunia menjadi lebih manusiawi tapi ternyata tak bisa mengubah apapun kecuali mengubah penyairnya sendiri.
tapi saya selalu yakin sebuah Hukum Alam yang berlaku. aturan sederhana tapi saya yakin seyakin-yakinnya hukum tersebut: bahwa siapa yang menabur angin akan menuai badai.
Cepat atau lambat.
untukmu zionis: semoga sejuta badai menghancurkanmu!
Merayakan ide, makna, rasa dalam bahasa. Sebelum terperangkap dalam ketidaktahuan dan ketidakmampuan mengungkap.
Showing posts with label bencana. Show all posts
Showing posts with label bencana. Show all posts
10 January 2009
17 September 2008
Tolong saya.....
tolongg saya....
tergagap...terbata..terisak...tersedak...mereka pagi itu, di depan pintu seseorang yang dapat memberi uang untuk sesuap nasi.
tolonnng saya, Pak..
terdesak...terperangkap...mereka pagi itu, di tengah lautan manusia yang berebut uang untuk sepiring makanan.
tolong saya, Bu...
terinjak...tergilas...terkapar...tergeletak mereka siang itu, di bawah terik, diantara debu dan kulit, di genangan keringat dan air mata.
dan kitapun dapat membaca bahwa anggota negeri ini ternyata masih sangat jauh dari sejahtera.
di tengah terbolak-baliknya sendi kehidupan, di tengah nyeri akan ketidakmampuan kita untuk dapat bersama mengelola sebuah kehidupan yang layak bagi sesama.
semoga kita belum jatuh lebih rendah dari manusia.
janji perbaikan semoga tidak berhenti sampai di makam duapuluh satu korban tragedi pasuruan, tapi berjangkit disetiap kita yang mendengarnya, untuk kembali menata sebuah perikehidupan untuk semua. untuk kembali belajar tentang manusia dan kemanusiaan.
::teriring belasungkawa::
bukan karena miskin kau terinjak
bukan karena fakir kau terkapar
tapi di pundak-pundak ini
tak terbeban sakit dan dukamu
tergagap...terbata..terisak...tersedak...mereka pagi itu, di depan pintu seseorang yang dapat memberi uang untuk sesuap nasi.
tolonnng saya, Pak..
terdesak...terperangkap...mereka pagi itu, di tengah lautan manusia yang berebut uang untuk sepiring makanan.
tolong saya, Bu...
terinjak...tergilas...terkapar...tergeletak mereka siang itu, di bawah terik, diantara debu dan kulit, di genangan keringat dan air mata.
dan kitapun dapat membaca bahwa anggota negeri ini ternyata masih sangat jauh dari sejahtera.
di tengah terbolak-baliknya sendi kehidupan, di tengah nyeri akan ketidakmampuan kita untuk dapat bersama mengelola sebuah kehidupan yang layak bagi sesama.
semoga kita belum jatuh lebih rendah dari manusia.
janji perbaikan semoga tidak berhenti sampai di makam duapuluh satu korban tragedi pasuruan, tapi berjangkit disetiap kita yang mendengarnya, untuk kembali menata sebuah perikehidupan untuk semua. untuk kembali belajar tentang manusia dan kemanusiaan.
::teriring belasungkawa::
bukan karena miskin kau terinjak
bukan karena fakir kau terkapar
tapi di pundak-pundak ini
tak terbeban sakit dan dukamu
Subscribe to:
Posts (Atom)