Menikmati SastraBila ingin mengetahui sejarah sebuah negeri lihatlah sastranya.Bahkan bila ingin menganalisa sebuah sampai batas tertentupelajarilah sasteranya. Noe Joe Lan
Ajarilah anakmu sastra; maka akan merubah anak penakut menjadipemberani
(Umar bin Khattab)
bagaimana proses perubahan sifat seorang anak oleh sastra, sayatidak tahu. begitupun bagaimana sastra menjadikan seseorangpemberani, saya tak mengerti.Namun bagaimana sastra mampu mengabadikan kebudayan adacontohnya. Disamping itu bagaimana Sastra mampu mendirikan sebuahperadaban yang kuat ada buktinya: Cina.
Salah Satu Negara yang sampai sekarang masih menghargai kesusateraan adalah Negara Cina. Bahkan satu-satunya Negara yangujian pegawai negerinya menyertakan bidang sastra yang ketat kepadapara calon PNS adalah cina .Tak mengherankan pabila cina menjadi sebuah Negara raksasa didunia sekarang ini. Karena emang selain memiliki catatan sejarah yang panjang negeri ini paling getol mengabadikan peristiwa-peristiwa kesejarahan negerinya baik melalui sastra atau karya seni lain (Kung-fu Taichi dll).
Banyak sekali karya-karya sastra yangdihasilkan oleh negeri ini. Jumlahnya mencapai ratusan ribu bahkanjutaan dari awal pembentukan sejarahnya. Bahkan jika semua hasilsastra diseluruh dunia dikumpulkan menjadi satu maka dibandingkanjumlah karya Cina masih banyak hasil karya-karya yang dibuat olehnegeri cina ini.Jumlah ini memang tak mengherankan karena jumlah penduduk Cina yangsangat banyak. namun selain factor jumlah, ada instrument lain yangmenyebabkan karya sastra Cina ini banyak sekali: Yaitu begitu kuatdan mengakarnya pewarisan hasil karya sebuah sastra.saking kuatnya budaya pewarisan sastra itu, Sampai sekarang di negeritirai bamboo ini sastera terus diajarkan kepada anak2 yang masihkecil. Sastra yang berumur ribuan tahun terus mereka kenalkan kepadagenerasi2 selanjutnya.
Tak heran apabila kemudian cina menjadi sebuah momok bagi Barat.karena semua orang Cina mengetahui sejarah masa lalunya (kecuali yangtidak... :)) karena mereka mengenal kejayaannya di masa lalu. karenamereka bangga dengan asal-usulnya. mereka bangga dengankebudayaannya. (kesemua itu hanya dengan pewarisan sastra)Dan akhirnya jadilah :China sebuah Negara yang (menurut Samuel P. Hautington) Ancamanterbesar peradaban barat setelah Islam. China yang penduduknyaterbesar didunia. China yang penduduknya tersebar diseluruh Negaranamun begitu kuat dengan budayanya. China yang di Indonesia; 17 dari25 pengusaha adalah orang China. China yang menguasai PerekonomianInd. China yang mempunyai imun yang kuat terhadap globalisasi. Chinayang kebudyaanya mengakar disetiap warganya. China yang peradabannyasejak sebelum masehi sampai sekarang masih bisa dirasakan.
Apakah emang hanya factor sastra saja?
Merayakan ide, makna, rasa dalam bahasa. Sebelum terperangkap dalam ketidaktahuan dan ketidakmampuan mengungkap.
19 October 2006
18 October 2006
Lawan baLiK
Sampai sekarang kita (umat islam) selalu dalam posisi defen
(bertahan), kita selalu saja dalam posisi diserang. Kita selalu
dijadikan sebagai pihak-pihak penjawab. Kita selalu dipusingkan
dengan berbagai serangan terhadap umat ini. Dan kita menjadi sering
lupa kepada tujuan-tujuan utama kita. Sehingga solusi-solusi Islam
tidak bisa kita tawarkan karena emang kita masih dalam tekanan luar.
Dari dulu para cendikiawan muslim kita dipusingkan pertanyaan-
pertanyaan dan istilah-istilah yang membuat mereka tidak produktif.
Kita, umat islam dihadapkan dengan istilah tenggang rasa, dibenturkan
dengan istilah pluralisme. Islam cultural, Islam sosialis. Kita
disibukkan dengan menjawab feminisme, modernisme, terorisme.
Sangat sadar kita masih gagap. Kita hanya menjadi permainan
mereka.
Saatnya melawan balik!
3/4 agustus
(bertahan), kita selalu saja dalam posisi diserang. Kita selalu
dijadikan sebagai pihak-pihak penjawab. Kita selalu dipusingkan
dengan berbagai serangan terhadap umat ini. Dan kita menjadi sering
lupa kepada tujuan-tujuan utama kita. Sehingga solusi-solusi Islam
tidak bisa kita tawarkan karena emang kita masih dalam tekanan luar.
Dari dulu para cendikiawan muslim kita dipusingkan pertanyaan-
pertanyaan dan istilah-istilah yang membuat mereka tidak produktif.
Kita, umat islam dihadapkan dengan istilah tenggang rasa, dibenturkan
dengan istilah pluralisme. Islam cultural, Islam sosialis. Kita
disibukkan dengan menjawab feminisme, modernisme, terorisme.
Sangat sadar kita masih gagap. Kita hanya menjadi permainan
mereka.
Saatnya melawan balik!
3/4 agustus
Konep (saat) merdeka dalam Ruang Individu
Angin itu kini berhembus lagi. Tidak lembut bukan juga badai,
angin segar yang dapat membangunkan orang dari kematian ide dan
kreatifitas. Angin segar yang cukup menyadarkan orang akan pentingnya
sebuah harapan dan perjuangan. Angin yang sejak puluhan ribu tahun
telah bertiup namun dalam beberapa puluh tahun ini tidak kita rasakan
karena membentur benteng kekuasaan dibalik sana. Kini setelah
benteng-benteng kekuasaan itu roboh angin itu dapat menghampiri kita.
Mengelilingi kita. Dan bagi sebagian orang yang gagap langsung
menghirup angin tersebut sampai memenuhi ruang otaknya tanpa
menyisakan sedikit ruang untuk berpikir. Angin kemerdekaan.
Sekarang apakah kita sudah merasakan kesegaran udara
kemerdekaan itu. Apakah angin kemerdekaan itu sudah membangunkan kita
dari kematian harapan.
apakah kita sudah merdeka!? jangan terburu-buru untuk mengatakan
"sudah". negara kita memang sudah cukup lama merdeka. tapi ingat itu
hanya ke-merdekaan fisik. sedangkan selain fisik kita memiliki
dimensi lain yaitu mental, sosial emosional dan spiritual. dan
kemerdekaan yang seseungguhnya adalah kemerdekaan di semua dimensi
individu kita.
Ciri terpenting dari kemerdekaan adalah lepas dari
ketergantungan pada apapun yang ada diluar dan bergantung pada Anda
sendiri. Benar mungkin kita sudah merdeka secara fisik tapi belum
tentu dalam mental dan emosional.
Untuk merdeka secara mental dan emosional kita harus melepaskan
segala ketergantungan yang ada di luar. Yang pertama adalah
ketergantungan kita pada apa yang kita rasakan. Kebahagiaan kita atau
kesedihan kita sering sekali dipicu oleh stimulus-stimulus dari luar.
Kita bahagia apabila ada orang yang memuji kita. Dan kita sedih,
tersinggung, marah dan sakit hati begitu ada orang yang menyerang
dengan kritikan, atau bantahan. Orang yang merdeka tidak akan pernah
mengijinkan orang lain menentukan apa yang ia rasakan. Dan belum
dikatakan merdeka jika kita belum bebas menentukan apa yang kita
rasakan.
Kedua adalah ketergantungan kita pada pa yang kita miliki.
Jangan harap kemerdekaan kita datang jika kita masih menggantungkan
semua emosi kita pada apa yang kita miliki. Kita bangga karena kita
mempunyai keluarga terpandang dan harta yang berlimpah. Tapi ingat
semua itu akan hilang. Begitupun kita sering mengidentifikasikan diri
kita dengan peran-peran yang kita miliki dan kita meletakkan ideal-
ideal kita pada peran tersebut. Dan kita akan marah jika Peran2
tersebut ada yang mengalahkan atau dikritik. pAdahal kita masih
memiliki banyak peran-peran yang kita jalani. Kita mungkin lemah
dalam beberapa peran tapi bukankah kita juga masih memiliki banyak
peran yang lain.
Hal ketiga yang perlu diperhatikan adalah ketergantungan kita
pada konsep, pemahaman, asumsi, paradigma kita pahami sebagai sebuah
kebenaran. Kadang-kadang konsep itu dipaksakan begitu saja tanpa kita
benar-benar mengetahuinya. Kadang-kadang "ketepesonaan" kita pada
tokoh dan figur membuat kita menerima semua apa yang dikatakan tanpa
sempat untuk berpikir lagi.
Keempat adalah ketergantungan pada perasaan kita. Kitalah yang
menetukan perasaan bukan perasaan yang menentukan kita. Kemerdekaan
berarti kita mampu berhasil mengendalikan perasaan kita. Terutama
rasa takut.
Orang yang merdeka adalah orang yang menjadi skenario, sutradara dan
sekaligus pemain dalam kehidupan dan nasib kita sendiri. Tanpa
menafikan kekuatan Allah tentunya.
tris
2006-08-26
angin segar yang dapat membangunkan orang dari kematian ide dan
kreatifitas. Angin segar yang cukup menyadarkan orang akan pentingnya
sebuah harapan dan perjuangan. Angin yang sejak puluhan ribu tahun
telah bertiup namun dalam beberapa puluh tahun ini tidak kita rasakan
karena membentur benteng kekuasaan dibalik sana. Kini setelah
benteng-benteng kekuasaan itu roboh angin itu dapat menghampiri kita.
Mengelilingi kita. Dan bagi sebagian orang yang gagap langsung
menghirup angin tersebut sampai memenuhi ruang otaknya tanpa
menyisakan sedikit ruang untuk berpikir. Angin kemerdekaan.
Sekarang apakah kita sudah merasakan kesegaran udara
kemerdekaan itu. Apakah angin kemerdekaan itu sudah membangunkan kita
dari kematian harapan.
apakah kita sudah merdeka!? jangan terburu-buru untuk mengatakan
"sudah". negara kita memang sudah cukup lama merdeka. tapi ingat itu
hanya ke-merdekaan fisik. sedangkan selain fisik kita memiliki
dimensi lain yaitu mental, sosial emosional dan spiritual. dan
kemerdekaan yang seseungguhnya adalah kemerdekaan di semua dimensi
individu kita.
Ciri terpenting dari kemerdekaan adalah lepas dari
ketergantungan pada apapun yang ada diluar dan bergantung pada Anda
sendiri. Benar mungkin kita sudah merdeka secara fisik tapi belum
tentu dalam mental dan emosional.
Untuk merdeka secara mental dan emosional kita harus melepaskan
segala ketergantungan yang ada di luar. Yang pertama adalah
ketergantungan kita pada apa yang kita rasakan. Kebahagiaan kita atau
kesedihan kita sering sekali dipicu oleh stimulus-stimulus dari luar.
Kita bahagia apabila ada orang yang memuji kita. Dan kita sedih,
tersinggung, marah dan sakit hati begitu ada orang yang menyerang
dengan kritikan, atau bantahan. Orang yang merdeka tidak akan pernah
mengijinkan orang lain menentukan apa yang ia rasakan. Dan belum
dikatakan merdeka jika kita belum bebas menentukan apa yang kita
rasakan.
Kedua adalah ketergantungan kita pada pa yang kita miliki.
Jangan harap kemerdekaan kita datang jika kita masih menggantungkan
semua emosi kita pada apa yang kita miliki. Kita bangga karena kita
mempunyai keluarga terpandang dan harta yang berlimpah. Tapi ingat
semua itu akan hilang. Begitupun kita sering mengidentifikasikan diri
kita dengan peran-peran yang kita miliki dan kita meletakkan ideal-
ideal kita pada peran tersebut. Dan kita akan marah jika Peran2
tersebut ada yang mengalahkan atau dikritik. pAdahal kita masih
memiliki banyak peran-peran yang kita jalani. Kita mungkin lemah
dalam beberapa peran tapi bukankah kita juga masih memiliki banyak
peran yang lain.
Hal ketiga yang perlu diperhatikan adalah ketergantungan kita
pada konsep, pemahaman, asumsi, paradigma kita pahami sebagai sebuah
kebenaran. Kadang-kadang konsep itu dipaksakan begitu saja tanpa kita
benar-benar mengetahuinya. Kadang-kadang "ketepesonaan" kita pada
tokoh dan figur membuat kita menerima semua apa yang dikatakan tanpa
sempat untuk berpikir lagi.
Keempat adalah ketergantungan pada perasaan kita. Kitalah yang
menetukan perasaan bukan perasaan yang menentukan kita. Kemerdekaan
berarti kita mampu berhasil mengendalikan perasaan kita. Terutama
rasa takut.
Orang yang merdeka adalah orang yang menjadi skenario, sutradara dan
sekaligus pemain dalam kehidupan dan nasib kita sendiri. Tanpa
menafikan kekuatan Allah tentunya.
tris
2006-08-26
Subscribe to:
Posts (Atom)